[FF] I’m not a Playboy (Part 1)

26 Des

Author : Vinny a.k.a. vinvin

Main cast : Kang Ji Hyun (OC), Kim Jong Hyun

Support cast : Lee Tae Min, Park Min Ri, Kim Ki Bum (Key), Choi Min Ho, appa dan Umma Ji Hyun, Taeyeon

Length : sequel

Genre : romance, friendship

Rating : General

TEASER

Summary : Di hari pertamanya di kelas 3 SMA, Ji Hyun bertemu dengan namja playboy yang sangat menyebalkan, Jong Hyun. Tingkah Jong Hyun yang menyebalkan selalu membuatnya pusing! Tapi dia tambah pusing lagi saat tahu tentang rencana yang telah Appa dan Ummanya siapkan untuknya!

A.N: Ini adalah ff pertamaku! Sebelum part 1 aku sudah mengirimkan teasernya, bagi yang baca silakan baca dulu…. Thanks buat yang udah berkomentar di teaser. Dan maaf karena di teaser yang kukirimkan banyak typo-nya…. Maaf ya, waktu aku ngetik udah malam sih.. Hehehe….

Ya sudahlah, yang sudah berlalu biarkan berlalu. Sekarang silakan membaca part 1 ini…. Happy reading, hope you like this J

Tahun ajaran baru telah mulai. Ji Hyun melangkah memasuki sekolah dengan riang. Dia melangkah menuju papan pengumuman, mencari namanya di daftar siswa kelas akhir SM High School.

“Kang Ji Hyun, Kang Ji Hyun….” gumam Ji Hyun sambil menelusuri daftar yang tengah dilihatnya. “Ah, aku kelas XXI A! Sekelas dengan Min Ri dan Tae Min!” Ji Hyun tersenyum senang bisa sekelas lagi dengan kedua teman akrabnya itu.

Ji Hyun berbalik dengan cepat, dan tanpa sengaja menabrak seorang namja yang sedang berjalan. “Auw!” ringis Ji Hyun pendek sebelum menatap wajah namja itu.

Ji Hyun belum pernah melihat namja itu sebelumnya. Namja yang tampan, cool dan manly. Sayang dia nggak begitu tinggi.

“Mianhae,” kata Ji Hyun pendek sebelum berjalan pergi. Tapi seseorang menahan tangan kiri Ji Hyun. Ji Hyun terpaksa berbalik.

“Aku belum bilang aku memaafkanmu….” kata namja itu pada Ji Hyun.

“Huh?” Ji Hyun menatap heran pada namja itu. Apa maksudnya?

“Aku akan memaafkanmu, asalkan….” namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Ji Hyun. Ji Hyun segera menjauhkan wajahnya. “… kau mau menciumku….” bisik namja itu sambil tersenyum kecil.

Hah? Mencium? Apa-apaan namja ini? Apa dia sudah gila? Beraninya kurang ajar padaku! Pikir Ji Hyun geram.

Ji Hyun menatap tatapan namja itu dengan tajam. “Kau mau ‘ciuman’?” bisik Ji Hyun. “Ini ‘ciuman’ dariku!”

Plakk!! Ji Hyun menampar wajah namja itu tanpa ragu-ragu.

“Aku sudah memberikannya. Dasar namja kurang ajar!” Ji Hyun segera melenggang pergi dengan angkuhnya, meninggalkan namja yang masih bengong itu.

Cowok zaman sekarang semakin kurang ajar, batin Ji Hyun yang mendengus kesal.

***

“Jong Hyun!” Key segera berlari mendekati Jong Hyun setelah melihat Jong Hyun ditampar seorang yeoja.

Jong Hyun bagai tersadar dari keterkejutannya. Dia melihat ke sekeliling. Banyak yang sudah melihat kejadian memalukan itu. Padahal ini hari pertamaku di SM High School, kenapa jadi begini?

“Kenapa yeoja itu menamparmu?” tanya Key masih terkejut melihat Jong Hyun ditampar di tahun ajaran baru ini.

“Entah. Aku hanya bercanda dengannya.”

“Bercanda bagaimana?” terdapat rasa curiga di nada bicara Key. Key tahu arti bercanda bagi Jong Hyun bukanlah bercanda yang sesungguhnya.

“Hanya menyuruhnya menciumku sebagai permintaan maaf.”

“Mwo?! Menciummu?! Ah, kau sudah gila ya? Dia itu President School di sini! Kau ingin cari masalah?” teriak Key shock. Sekarang dia benar-benar bingung harus menertawakan sepupunya yang malang itu atau malah khawatir dengan nasib Jong Hyun selanjutnya.

“President School? Siapa namanya?”

“Kang Ji Hyun. Jangan main-main lagi dengannya. Kalau dia marah bisa bahaya,” Key dengan cerewetnya menceramahi Jong Hyun.

Bahaya? Huh, apa yang bisa yeoja seperti itu lakukan untuk melawanku? Pikir Jong Hyun sombong. Tapi dia benar-benar menarik. Yeoja yang pertama kali menamparku di pertemuan pertama. Dan ternyata dia itu president school. Menarik. Jong Hyun tersenyum kecil memikirkan yeoja itu, Kang Ji Hyun.

***

Ji Hyun berjalan ke ruang kelasnya bersama Tae Min dan Min Ri. Ekspresi kesal belum hilang dari wajahnya.

“Kau kenapa Ji Hyun?” tanya Min Ri.

“Molla. Hanya karena namja gila yang baru kutemui,” jawab Ji Hyun malas.

“Namja gila?” Min Ri bertanya dengan penuh rasa penasaran.

Ji Hyun pun menceritakan kejadian yang baru dialaminya secara singkat.

“Omo…. Kurang ajar sekali dia. Memang pantas ditampar!” respon Min Ri berapi-api.

“Siapa orang itu?” tanya Tae Min. Nada tak senang terdengar jelas dari kata-katanya.

“Entah. Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini. Sudahlah, untuk apa kita membicarakan namja seperti itu. Kita sudah sampai.” Ji Hyun mengingatkan kedua sahabatnya kalau mereka sudah sampai di depan kelas.

“Ayo masuk ke kelas kita yang baru!” sorak Min Ri semangat.

Mereka pun masuk ke dalam kelas mereka dan mengambil tempat duduk berdekatan. Tak berapa lama Han Seonsaengnim yang menjadi wali kelas mereka masuk dan melakukan pengaturan tempat duduk.

Min Ri mengeluh pelan mendengar pembagian tempat duduk. Ini berarti dia akan duduk terpisah dari Tae Min dan Ji Hyun. “Lebih enak kalau kita duduk berdekatan. Aku tidak banyak mengenal orang di kelas ini, hanya beberapa saja,” kata Min Ri masih sambil cemberut.

“Malah dengan begini kau akan bisa cepat dekat dengan yang lainnya, daripada hanya dengan kami saja.” Tae Min menjelaskan pada Min Ri.

“Aku ke sana dulu ya.” Tae Min mengangkat tasnya dan duduk di kursi belakang. Ji Hyun dan Min Ri pun harus segera duduk di tempat mereka.

Ji Hyun pun duduk di tempatnya, bangku ketiga baris ketiga. Setelah menghempaskan tasnya, ia pun menatap berkeliling, mencoba mencari di mana posisi Tae Min dan Min Ri. Ternyata Min Ri berada tidak jauh di sebelah kiri Ji Hyun dan Tae Min berada di pojok kanan kelas.

Setelah memastikan posisi duduk Tae Min dan Min Ri, Ji Hyun melihat teman yang duduk di baris sebelahnya. Di sebelah kirinya ada Key yang dulu pernah sekelas dengannya di kelas satu dan di sebelah kanannya ada…. Uh? Namja itu?

Ji Hyun dan Jong Hyun yang baru saja duduk di bangkunya saling berpandangan.

“Kau… namja kurang ajar itu kan?” tanya Ji Hyun pelan dengan ragu-ragu.

“Aku kurang ajar? Bukankah yang kurang ajar itu dirimu? Berani-beraninya kau menamparku,” dengus Jong Hyun.

“Jelas-jelas kau yang salah tapi malah menyalahkanku. Seharusnya kau sadar bagaimana sikapmu tadi. Benar-benar namja kurang ajar. Kau memang pantas ditampar!” kata Ji Hyun menahan amarah. Sepertinya namja ini mau mencari masalah!

“Hah, malas harus bicara dengan yeoja sepertimu.” Jong Hyun membuang wajahnya.

“Seperti apa maksudmu?!” Ji Hyun meninggikan suaranya. Ya ampun, namja ini benar-benar ingin mencari masalah denganku ya?

Jong Hyun diam, dia tak memedulikan –tepatnya pura-pura tak peduli pada—Ji Hyun dan menatap Park Seonsaengnim. Ji Hyun masih menatap Jong Hyun penuh amarah dan menghela nafas panjang. Dia harus fokus dengan tahu ajaran baru ini! Tekadnya.

Ji Hyun berusaha fokus pada kata-kata Park Seonsaengnim, tapi mata –dan terutama pikirannya—tertuju pada Jong Hyun. Tanpa Ji Hyun sadari Jong Hyun sedang menahan tawa melihat tingkah Ji Hyun. Yeoja yang menarik, pikir Jong Hyun.

***

“Min Ri, kau harus tahu sesuatu,” ucap Ji Hyun saat dia dan Min Ri sedang berjalan ke halaman depan sekolah sepulang sekolah.

“Apa?” Min Ri menatap Ji Hyun penasaran.

“Aku sudah tahu siapa sebenarnya namja gila itu,” jawab Ji Hyun tanpa menghentikan langkahnya.

“Nugu? Nugu?” Min Ri semakin penasaran.

“Itu, anak baru yang sekelas dengan kita.”

“Kim Jong Hyun?” Tak perlu waktu lama bagi Min Ri untuk menebak namja yang dimaskud Ji Hyun. Cuma Jong Hyun namja di kelas mereka yang baru masuk ke SM High School.

“Ne,” jawab Ji Hyun singkat.

“Jinjja? Dia orangnya? Aigoo… aku tak menyangka,” respon Min Ri berapi-api. “Tapi, kasian juga kau sudah menamparnya.  Dia itu kan cakep. Nanti mukanya jadi jelek kalau terlalu banyak ditampar….”

“Min Ri-ah! Kenapa kamu jadi membelanya sih?” Ji Hyun memasang muka kesal. Bisa-bisanya sahabatnya malah membela namja kurang ajar itu.

“Aku hanya bercanda Ji Hyun. Tapi dia memang tampan dan cool.” Min Ri menutup kata-katanya dengan tawa kecil.

Tampan? Pikir Ji Hyun. Setampan apapun seorang namja, kalau kurang ajar tetap saja jelek di mataku.

***

Suara dentuman musik terdengar keras dalam sebuah klab malam. Di sudut klab, terlihat tiga namja tengah duduk. Di atas meja terdapat dua botol bir yang hampir habis.

“Min Ho!” seru salah satu namja berambut pirang di tengah bisingnya suara musik.

“Wae Key?” Namja bertubuh atletis yang dipanggil Min Ho itu menoleh.

“Kau tahu? Pagi ini Jjong ditampar seorang yeoja!” kata Key semangat. Jarang-jarang dia bisa menyebarkan berita memalukan tentang Jong Hyun.

“Benarkah? Waeyo?” tanya Min Ho lebih lanjut. Yang tengah dibicarakan hanya duduk tenang di antara Min Ho dan Key.

“Gara-gara dia menyuruh President School kami untuk menciumnya!”

Min Ho menggeleng-geleng kepala. Makin lama sahabatnya itu makin berani saja. Ternyata kelakuan Jong Hyun tidak berubah walau sudah tidak bersekolah di sekolah mereka dulu.

“Ah, berisik.” Jong Hyun berdiri dan berjalan ke tengah klab, tempat orang-orang sedang menari mengikuti irama musik.

“Hey, kenapa pergi?” tanya Key. Seperti biasa Key tak digubris.

Jong Hyun diam saja, pura-pura tak mendengar. Dari tadi pikirannya hanya satu, hal yang baru diingatnya tadi. Kenapa wajah Ji Hyun itu tampak familier baginya? Padahal dia baru bertemu dengan Ji Hyun pagi ini. Tapi rasanya Ji Hyun mirip dengan orang lain yang pernah ditemuinya. Apa Jong Hyun memang pernah bertemu dengan Ji Hyun sebelumnya?

Ah, sudahlah. Dari pada pusing memikirkan hal seperti itu lebih baik aku bersenang-senang. Pikir Jong Hyun. Ia lalu menghampiri seorang yeoja yang menggunakan mini dress dan mulai menari bersama.

Min Ho masih memandangi Jong Hyun yang sekarang sedang asyik menari dengan beberapa yeoja di sekitarnya. Tanpa sadar Min Ho menggelengkan kepalanya pelan. Kau benar-benar berubah Jjong. Sangat berbeda dengan dirimu yang dulu. Hanya karena yeoja itu meninggalkanmu kau berubah menjadi seperti ini. Apa suatu hari nanti kau bisa kembali ke Jong Hyun yang dulu, sama seperti setahun yang lalu?

***

Siang itu jam makan siang di sekolah mereka. Seperti biasa Ji Hyun dan Min Ri pergi ke kantin. Tae Min juga ke kantin tapi bersama teman-teman namjanya. Setelah membeli makanan mereka pun mengambil tempat di sebuah meja. Hari itu Ji Hyun hanya membeli sebuah hamburger. Baru saja Ji Hyun membuka bungkus burgernya, ada dua orang namja yang berhenti di samping mejanya.

“Boleh kami duduk? Tempat lain sudah penuh,” ijin Key, sementara namja satunya tak lain tak bukan adalah Jong Hyun.

“Silakan,” kata Min Ri sambil tersenyum manis. Ji Hyun langsung melototkan matanya pada Min Ri. Dia tidak mau duduk semeja dengan Kim Jong Hyun!

Key mengambil tempat di samping Min Ri, jadi mau tak mau Jong Hyun duduk di samping Ji Hyun. Ji Hyun mendengus kesal lalu menggeser posisinya menjauhi Jong Hyun. Dia tidak mau duduk dekat-dekat dengan namja itu. Siapa tahu sifat buruk Jong Hyun bisa menular.

Ji Hyun kembali berkonsentrasi pada burgernya, tidak melihat ke arah Jong Hyun sama sekali. Hampir saja Ji Hyun menggigit burger itu saat tiba-tiba seseorang menarik burger itu menjauh dari mulut Ji Hyun.

“Jong Hyun!” protes Ji Hyun.

“Gomawo, ini untukku kan?” Jong Hyun tersenyum jahil sambil berlagak hendak menggigit burger itu.

“Kau…! Kembalikan!” Ji Hyun berteriak tertahan sambil berusaha merebut kembali hamburgernya. Jong Hyun menghalau Ji Hyun dengan tangan kirinya.

“Pelit sekali. Aku sedang lapar tahu….” Jong Hyun mendekatkan burger itu ke mulutnya.

“Kembalikan!!” Ji Hyun mencoba menjangkau burgernya. Dia menyingkirkan tangan kiri Jong Hyun yang menghalanginya dan condong ke depan. Mata Ji Hyun tertuju pada burgernya.

Sementara Ji Hyun bergerak maju, Jong Hyun semakin memundurkan tubuhnya. Dan tanpa sengaja…

Bruk!

Ji Hyun terjatuh dan menimpa tubuh Jong Hyun. Badannya terasa kaku saat bertatapan dengan namja itu. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter. Ji Hyun bisa merasakan hembusan nafas Jong Hyun di mukanya. Wajah  Ji Hyun langsung memanas dan detak jantungnya tak karuan. Butuh beberapa detik bagi Ji Hyun untuk sadar dan bangkit dari posisinya.

Setelah itu Ji Hyun menarik nafas dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ia pun melihat ke sekelilingnya. Ternyata banyak orang di kantin yang memandanginya, tepatnya memandangi kejadian yang baru saja terjadi.

Ji Hyun merasa malu, benar-benar malu! Kenapa dia harus berebut burger sampai terjatuh segala? Ke mana wibawaku?? Teriak Ji Hyun dalam hati.

Min Ri dan Key masih membisu melihat kejadian tadi, tepatnya tak bisa berkata-kata. Ji Hyun segera berdiri dan berkata pelan, “Aku sudah tidak lapar. Aku duluan ya.”

Tanpa babibu lagi Ji Hyun pun berjalan keluar kantin. Dia berusaha mengatur agar jalannya terlihat sempurna dan penuh percaya diri dengan memasang wajah seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi dalam hati rasanya sangat malu!

Ji Hyun babo…. seharusnya aku tidak meladeni si gila Jong Hyun itu! Tapi… kenapa detak jantungku jadi cepat? Ah, pasti karena malu. Aish… gara-gara namja itu!

***

Sudah hampir dua jam sejak jam makan siang. Ji Hyun berusaha menangkap pelajaran seonsaengnim dengan baik, tapi rasa sakit di perutnya membuatnya tak bisa berkonsentrasi. Ji Hyun membungkukkan tubuhnya, berusaha membuatnya merasa lebih baik. Wajahnya pun berkerut menahan sakit.

Jong Hyun yang bosan mendengar penjelasan gurunya pun melihat ke arah Ji Hyun. Siapa tahu dia bisa ku kerjai, pikir Jong Hyun. Tapi melihat Ji Hyun yang duduk dengan aneh membuat Jong Hyun tertawa kecil.

“Jelek sekali cara dudukmu,” ejek Jong Hyun sambil menyeringai.

Ji Hyun yang mendengar suara Jong Hyun yang dibencinya itu melirik sedikit ke arah kanan. Rasanya dia ingin membentak Jong Hyun saat itu juga. Tapi rasa sakit di perutnya membuatnya hanya mampu menatap Jong Hyun dengan tatapan yang dirasanya cukup mematikan.

“Apa kau sakit perut?” tanya Jong Hyun ragu-ragu sambil menatap Ji Hyun dengan tatapan menyelidik.

“Hm….” gumam Ji Hyun, sebagai jawaban ‘iya’.

“Apa tadi kau ada makan? Wajahmu pucat sekali.”

Ji Hyun hanya menggeleng pelan.

“Mwo?! Gara-gara kejadian itu kau tidak makan? Ah, berarti ini salahku donk.” Jong Hyun menggaruk-garuk kepalanya. “Ayo, kubawa ke ruang kesehatan.”

Ji Hyun menggeleng lagi. Dia tidak suka dibawa ke ruang kesehatan, karena dia tidak suka sakit.

“Ah, kau keras kepala sekali.”

Jong Hyun berdiri dan mengangkat Ji Hyun agar berdiri juga. Seonsaengnim langsung menhentikan penjelasannya. Seisi kelas menatap mereka heran dan terkejut.

“Dia sedang sakit, seonsaengnim. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan,” ijin Jong Hyun dan langsung berjalan menuntun Ji Hyun keluar dari kelasnya.

“Tunggu!” seseorang menahan Jong Hyun.

“Biar aku saja yang mengantarnya,” kata Tae Min yang segera meraih tangan Ji Hyun dan membawanya keluar.

“Gomawo Tae Min. Aku tidak nyaman bersamanya,” kata Ji Hyun lirih saat mereka sudah berjalan keluar kelas.

“Cheonmaneyo,” jawab Tae Min. “Aku juga tidak bisa percaya dengan namja itu. Apa maag mu kambuh?”

Ji Hyun menggangguk pelan sambil menahan sakit.

“Namja itu…. Pasti karena Kim Jong Hyun merebut burgermu kan? Ah, dia itu….” Tae Min tampak geram dan sedikit marah.

Ji Hyun tidak menjawab, dia meringis kesakitan. Perutnya terasa ditusuk-tusuk dan sangat perih. Ji Hyun menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha menahan rasa sakit itu.

Tak berapa lama Tae Min dan Ji Hyun sampai di ruang kesehatan. Tae Min membaringkan Ji Hyun di atas tempat tidur. Ji Hyun menutup matanya, berusaha untuk tidur. Beberapa saat kemudian Tae Min menyodorkan segelas air hangat dan sebutir obat. Ji Hyun meminumnya. Tak lama kemudian Ji Hyun merasa kesadaran berkurang, dia pun jatuh tertidur.

***

Tae Min menatap wajah Ji Hyun yang sedang tertidur lekat-lekat. Ji Hyun tampak sangat cantik. Walau begitu raut kesakitan tampak di wajahnya. Ji Hyun pun tak terlihat tenang, seakan menyimpan beban dalam pikirannya. Tae Min menghela nafas.

Mungkin Ji Hyun tidak tahu, tapi Tae Min pernah beberapa kali memergoki Ji Hyun tengah melamun. Bukan melamun seperti biasa, tapi dengan raut wajah yang tampak sedih. Dan menurut Tae Min, hanya satu orang yang bisa membuat Ji Hyun sesedih itu. Orang yang penting untuk Ji Hyun.

Apa kau masih tidak bisa melupakan namja itu Ji Hyun? Apa dia begitu penting bagimu? Padahal sudah lama dia meninggalkanmu, tapi kenapa kau masih memikirkannya? Apa kau tak bisa memikirkanku saja? Kenapa bukan aku saja yang ada di pikiranmu?

***

Ji Hyun menggeliat sebentar sebelum dia membuka matanya pelan-pelan. Perlu beberapa detik sampai dia ingat sedang berada di ruang kesehatan dan sedang sakit maag. Perutnya sudah tidak sakit lagi, tapi dia sangat lapar. Sudah seharian dia tidak makan.

Segera saja Ji Hyun bangun. Jam di ruang kesehatan menunjukkan jam 14.50. Sepuluh menit lagi sudah waktu pulang. Ji Hyun turun dari tempat tidur dan memakai sepatunya. Pandangannya tertuju pada sebuah kotak plastik yang ada di atas kepalanya. Ji Hyun segera mengambil dan membuka kotak itu. Ternyata isinya makanan!

“Spaghetti!” kata Ji Hyun agak terperanjat melihat makanan kesukaannya itu. Perutnya langsung berbunyi. Liurnya pun mendukung dengan hampir menetes. Ah, lapar…!

“Apa ini untukku?” gumam Ji Hyun. “Ini diletakkan di atas tempatku, jadi ini pasti untukku. Mungkin Min Ri atau Tae Min yang memberikannya. Ah, mereka memang teman baikku!”

Ji Hyun pun keluar dari ruang kesehatan dan segera melahap spaghetti yang ternyata masih panas itu. “Ah, enak sekali! Baik sekali Tae Min dan Min Ri.”

Baru saja Ji Hyun menghabiskan makanannya, bel pulang berbunyi. Ji Hyun segera berlari ke kelasnya. Sesampainya di sana, teman-temannya baru saja akan keluar. “Ji Hyun!” teriak Min Ri yang baru keluar kelas. “Kau sudah sembuh?”

“Sudah. Oh ya, gomawo buat spaghettinya. Aku sudah sangat lapar tadi.”

“Spaghetti apa?” tanya Tae Min yang sudah berada di samping Ji Hyun dan Min Ri.

“Spaghetti yang ada di atas tempat tidurku, itu dari kalian kan?” tanya Ji Hyun heran.

Tae Min dan Min Ri menggeleng bersamaan. “Tidak ada,” jawab Min Ri.

“Lalu itu dari siapa?”

Ji Hyun menatap Min Ri dan Tae Min yang juga tampak bingung. Tiba-tiba seseorang mendekati mereka.

“Apa spaghettinya enak?” tanya Jong Hyun.

“Ja… jadi spaghetti itu darimu?!” Ji Hyun menatap Jong Hyun dengan ngeri.

“Iya, memangnya kenapa?” jawab Jong Hyun santai.

“Ah…! Kau tidak mencampur dengan hal-hal aneh kan?” Pikiran Ji Hyun mulai berkelana ke mana-mana. Mungkin Jong Hyun telah mencampurnya dengan obat sakit perut, atau racun sekalian!

“Bukannya berterima kasih malah menuduh yang tidak-tidak. Apa kau tidak tahu sopan santun?”

“Mana bisa aku percaya dengan orang sepertimu? Jangan-jangan kau mencampur makanan itu dengan racun ya?” tanya Ji Hyun dengan nada mengancam bercampur ketakutan yang dibuat-buat.

Jong Hyun terdiam beberapa saat dan menatap Ji Hyun tajam.

“Iya,” jawab Jong Hyun ringan lalu berjalan pergi.

“Yaa! KIM JONG HYUN!!!”

***

Sudah empat jam berlalu sejak kejadian itu. Tapi kenapa Kim Jong Hyun tidak bisa hilang dari pikiran Ji Hyun?

Kim Jong Hyun, namja menyebalkan yang mengganggu Ji Hyun terus-terusan dua hari ini. Namja yang menyebalkan. Dan namja yang membuatnya memikirkan seseorang terus-terusan setelah setahun tidak melakukannya. Tapi jangan salah sangka! Yang Ji Hyun rasakan saat memikirkan Jong Hyun hanyalah rasa kesal.

Belum pernah Ji Hyun diperlakukan seperti itu oleh seorang namja. Hanya Jong Hyun yang bisa membuat Ji Hyun yang selalu tenang dan anggun ini jadi kesal sendiri, marah-marah nggak jelas, dan membuatnya ingin selalu berteriak. Padahal baru dua hari dia kenal dengan Jong Hyun, tapi rasanya Jong Hyun sering sekali mengganggu kehidupan Ji Hyun. Tak bisa Ji Hyun bayangkan berapa hari lagi yang harus dihabiskannya dengan Jong Hyun yang satu sekolah, satu kelas dan duduk di sebelahnya. Untung saja di rumah Ji Hyun bisa bebas dari namja gila itu. Kalau tidak pasti dia akan jadi gila.

Ji Hyun masih berbaring santai di atas tempat tidurnya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tak berapa lama pintu pun terbuka dan tampak Shin Ahjumma, pengurus rumah tangga di rumah Ji Hyun.

“Nona, sudah waktunya makan malam. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan,” katanya.

“Apa? Umma dan Appa ada di bawah? Gomawo sudah memanggilku, Ahjumma. Aku akan turun sekarang.”

Ji Hyun segera melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari ke ruang makan. Benar saja, Umma dan Appa Ji Hyun sudah menunggunya di meja makan. Ji Hyun sangat bersemangat. Tidak biasanya kedua orangtuanya bisa berkumpul seperti ini. Appa dan Umma Ji Hyun selalu sibuk dengan urusan bisnis mereka, meninggalkan Ji Hyun sendiri di rumah.

“Appa, Umma!” sapa Ji Hyun riang. Dia pun mengambil tempat di depan Ummanya sambil menatap makanan yang tertata di atas meja makan. Semuanya tampak enak.

“Bagaimana sekolahmu? Apa semua baik-baik saja?” tanya Umma.

“Seperti biasa. Walau ada yang sedikit menyebalkan,” Ji Hyun memelankan suaranya di kalimat terakhir.

“Bagaimana dengan pekerjaan Appa dan Umma? Baik-baik saja?” Ji Hyun balik bertanya. Sebenarnya hanya sekedar basa-basi. Toh Ji Hyun yakin tidak ada masalah berarti di perusahaan Appa maupun kantor pengacara Ummanya.

Umma Ji Hyun menatap Appa dengan tatapan yang tidak dimengerti JI Hyun sebelum menjawab. “Tentu saja.”

“Ayo kita makan dulu, ngobrolnya nanti ya.” Kata Umma Ji Hyun. Mereka pun segera memulai makan malam. Setelah mereka selesai makan, Appa Ji Hyun membuka pembicaraan.

“Ji Hyun, sebenarnya ada yang ingin Appa dan Umma bicarakan denganmu,” kata Appa Ji Hyun dengan tampang serius.

“Katakan saja Appa. Apa ini hal yang penting?” Ji Hyun jadi penasaran. Tak biasanya Appa berbicara seserius itu.

“Ini hal yang menyangkut dirimu.”

Menyangkut tentangku? Aku tidak membuat masalah, tidak juga mendapat tawaran beasiswa. Terus apa yang ingin dibicarakan? Apa Appa dan Umma sedang merencanakan kuliahku nanti? Ji Hyun bertanya-tanya dalam hatinya. Dia pun meraih gelas dan meneguk air putih.

“Ji Hyun, sebenarnya… kamu sudah dijodohkan,” kata Appa pelan tapi tegas dan jelas.

“Uhuk… uhuk….” Ji Hyun tersedak. Air yang baru ingin diminumnya keluar lagi.

Mwo?! Dijodohkan?! What?!?!

TBC…

 

Ah, akhirnya part 1 selesai juga setelah mengalami revisi besar-besaran sampai lima enam kali. Bagaimana? Apa FFnya bagus? *semoga iya* Tentang adegan Ji Hyun sakit maag, sebenarnya aku nggak ngerti sakit maag itu gimana rasanya. Jadi kalau aneh tolong dimaafkan…. Oh ya, aku juga mengirimkan ff ini ke blog lain. Jadi kalau lihat ada ff ini di blog lain dengan authornya masih aku (Vinny a.k.a. vinvin) berarti itu bukan plagiarisme.

Tolong tinggalkan jejak kalian ya…. Don’t be silent reader! Comment, please…. Aku akan menerima kritik dan saran dengan senang hati J Jadi comment ya…. Kalau ternyata ff ini nggak banyak yang suka, mungkin nggak akan ku lanjutkan. Jadi comment ya kalau mau tahu kelanjutannya. Thank you for reading J

Tentang iklan-iklan ini

10 Tanggapan to “[FF] I’m not a Playboy (Part 1)”

  1. eunhae 11 Juli 2013 at 10:18 AM #

    dijodohin sama jonghyun ya? asik asikkk hahaha kisah masa lalu jonghyun sama jihyun sama ya? kayaknya ada rahasia nih. hoho

  2. @_SnowAngels_ 30 Juni 2012 at 6:01 AM #

    Aku suka ceritanya :)
    kira2 dijodohin ma siapa ya ? Jjong kah ?
    Langsung baca next part ah :)

  3. kirana 21 April 2012 at 7:18 PM #

    keren kok.lanjutt

  4. Detya's 15 Januari 2012 at 8:09 PM #

    Aahhhh……bkn orang pnsrn,.,.,
    siap y orang’n?

  5. echy 11 Januari 2012 at 2:48 PM #

    like this min,,,,

  6. vinvin 26 Desember 2011 at 10:00 PM #

    wah.. makasi utk comment n pujiannya.. smkin mnambah semangat q!
    @awing: 5 bintang dr brp bintang nih? haha.. just kidding. thx ya..
    aq kira bkal mengecewakn, tp baguslh kalo reader suka. n sorry ga bsa reply commentnya satu persatu alna aq comment lwat hp. tnggu aja kelanjutannya :)

  7. awing 26 Desember 2011 at 8:17 PM #

    d tunggu aj deh bwt next part’a y, poko’a 5 bintang bwt rating’a

  8. luvich 26 Desember 2011 at 6:09 PM #

    Like this post,ditunggu lanjutan ceritanya ya agasshi, gomawoo n_n

  9. uli sadhega 26 Desember 2011 at 2:31 PM #

    bagus min. lanjutin trus yaa. penasaran nih ;D

  10. morningowls 26 Desember 2011 at 1:53 PM #

    Uwaaa such a good one! Can’t wait for the next part ^^

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31.065 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: