[FF] Life is Valueable (Part 1)

6 Mei

Tittle                            : LIFE IS VALUEABLE

Author                         : Via ( @vibsaff )

Cast                             : Sang He (OC/You)

Jinyoung (B1A4)

Gongchan (B1A4)

Sang He’s Eomma, Appa

Language                    :Bahasa

Ratting                                    : 13+ (T)

Length                         :Novlet

Genre                          : Romance, Drama, Fiction.

Gelap gulita
Menangis
Menunggu
Berbisik dalam hati dingin ini
Dan berkata..

Aku menunggu janji-Mu Dewa..

Cahaya menusuk mata terlihat dari ufuk timur
Sesuatu perkataan terdengar
“Apa kau yakin dan sanggup. Menjalani kehidupanmu sebagai sepasang kekasih dan tulus mencintai?”
Perkataan adalah Janji
Ya! Yakin dan Sanggup. Sebagai sepasang kekasih yang tulus mencintai.

Mulut tak terkunci
“Walaupun nyawa merenggutmu yang kedua kali?”
“ya ! walaupun itu yang ke sepuluh kalipun.

Cahaya menumpul dan hilang dari ufuk barat

Tak mengerti apa yang terjadi
Tertegun, dan…
“Apakau sadar? Please, open your eyes DEAR !”
“Iya, aku sudah sadar.. Please, Don’t go.. don’t leave me alone DEAR. Sorry for yesterday...”

(Via)

Sang He POV

Terasa atmosfer pagi masuk kedalam paru paruku ini. Terdengar kicauan burung pagi yang merdu. Terlihat hewan hewan mencari makan. Tak ku sangka, Tuhan masih memberikanku hidup untuk hari ini, juga memberiku keluarga yang manis seperti ini, aku sangat beruntung. Hatiku makin tak sabar untuk melihat hasil kelulusan tahun ini, aku sangat senang aku berharap. Aku bisa lulus dengan nilai terbaik.. ya, aku harap.

“Sang He.. ayo, berangkat! Sekolahmu dan kantor Eomma dan Appa -kan sama! Cepat, sudah telat loh.” teriakan Eomma terdengar sampai ke atas, tempat kamarku.

“Ah, nee Eomma ! Aku akan segera turun!”
Jawabku yang tergesa-gesa.  Aku segera turun kebawah, dan memasuki mobil. Ternyata Eomma dan Appa sudah menunggu, hatiku makin tak enak.

Mian Eomma, appa, aku agak telat sebentar.” Kataku segan.

Hmm.. Ne.. Gwaenchana, lain kali jangan telat lagi ya, bukannya sekarang hari pembagian nilai kelulusan? Kau harus semangat dan optimis Sang He! Appa yakin kau akan lulus!”
Kata Appa menyemangatiku, aku sangat bangga sekaligus senang memiliki Appa seperti nya.

“Sang He, Eomma juga  yakin kau akan lulus, hwaiting !”
Lanjut Eomma. Senangnya, ini adalah keindahan keluarga yang tidak bisa dibeli, aku sangat bersyukur.

Beberapa menit setelah itu, sampailah aku disekolah, sekolah yang sudah kudatangi mungkin lebih dari 500 kali ini, tetap menjadi sekolah kesayanganku, sekolah dimana siswa siswinya selalu tersenyum ramah, guru-guru yang tak kenal letih mengajar, demi murid-muridnya, gedung yang terawat sampai saat ini, dan.. yang terpenting adalah.. sahabatku.

“Hai Sang He !”
Teriak suara kejauhan memanggilku. Kulihat sekeliling, dan bertanya, siapa yang memanggilku tadi?

“Ternyata kau Jinyoung.. aku sangat kaget, apakau tidak sabar ingin melihat nilai kelulusan tahun ini?” Tanyaku.

Hmph! tentu! kita pasti  bisa lulus! Hwaiting !!”
Kata Jinyoung sambil menyemangatiku. senyumannya menandakan semangatnya yang tak henti, matanya yang memancarkan keyakinan itu, membuatku makin optimis menghadapi hasil ini.

Terdengar suara berisik di ruang tengah lantai dasar bagian sekolahku, ada apa itu? Apa..  Pengumuman kelulusan? Aku terus bertanya Tanya dalam hati, menandakan ada sesuatu yang sangat mengejutkan.

Huh, Sang He !! Ayo cepat kita kebawah! disana sudah diumumkan nilai kelulusan!” Teriak Jinyoung yang diiringi sesak nafas. Tak ku sangka, dia berlari dan menuju tempat dudukku.

Wah ! Ayo Jinyoung ! Tapi.. pasti disana akan ramai sekali. Mungkin, setelah pulang sekolah saja ya. Aku kurang suka tempat pengap seperti itu.” Sautku dengan muka lemas.

“Sang He, saat saat seperti ini adalah saat dimana meledaknya amarah kita! setelah ,ujian berakhir yang terus membayangi ingatanku! Ayolah.. ini hanya sebentar saja.”
Kata Jinyoung merayuku, senyumannya matanya terlihat ingin memohon tapi, aku sangat tidak suka tempat pengap itu.

Hahh.. kamu ini…”

GREP !

Jinyoung langsung memotong pembicaraan dengan memegang tanganku, dan langsung menariknya  ini terasa sedikit memaksa tapi, tidak terasa sakit. Justru sebaliknya, terasa lembut.

“Sudahlah, aku sudah tidak sabar untuk melihat nilai kelulusan !”
Kata Jinyoung, yang sepertinya agak kesal.

Huh, baiklah.”
Kataku mengalah. Kami berjalan menyusuri lorong kelas.  Jinyoung terus berjalan sambil memegang tanganku, terasa sekali, tangannya sangat besar, memegang penuh seluruh tanganku.
Akhirnya, sampai juga di mading sekolah. seperti dugaanku, ini akan menjadi tempat yang ramai, dipenuhi dengan nafas dan keringat orang orang.

“Sang He! Ayo lihat! Dimana namamu yaa.. apa kita akan lulus bersamaa??” Saut Jinyoung dengan nada panjang.

Hmm.. yaa, aku akan lihat..” sejenak aku terdiam, kucari dengan teliti, dimana namaku berada. Aku sangat penasaran, semoga, aku akan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Aahh !! Ini dia namakuu! Aku lulus !!! Apa kau juga Jinyoung? ”  Dengan spontan, aku berteriak saking gembiranya. Aku sangat bersyukur.

“Tentuu !!! akhirnya kita lulus bersama!”

Ucap Jinyoung dengan senang, dengan reflex ia memelukku erat. Pelukan itu, seperti pelukan persahabatan, pelukan yang kubalas dengan lembut.  Ini adalah kelulusan yang sangat menyenangkan, perasaanku tidak bisa digambarkan. Sedih, senang, terharu, bangga, semuanya tercampur menjadi satu. Aku tidak bisa mengekspresikannya dengan maksimal. Karena.. ini adalah takdir yang tidak mungkin ku tolak, semua ini karena kerja keras.

Setelah itu, aku dan Jinyoung segera bergegas dan pulang kerumah. Seperti biasa, aku pulang bersama dengan Jinyoung. Walau teman-temanku menyebut kami “best couple” padahal, Jinyoung hanyalah sebagai temanku. Saat kita sedang berjalan menuju pulang, Jinyoung mengajakku ke suatu tempat.

Hmm, Sang He!” Tiba tiba Jinyoung membuka pembicaraan.

Ne, ada apa?” Jawabku. Ku lihat wajahnya yang malu, terlihat sangat lucu.

“Aku mempunyai usul, karena kita sudah lulus, dan mendapatkan nilai yang memuaskan, bagaimana kalau kita mengadakan pesta perayaan untuk kita berdua ? Tidak terlalu mewah, hanya sekedar makan makan? Bagaimana?” Ajak Jinyoung. Ia sangat bersemangat, aku seperti tidak bisa menolaknya.

Hmm… sepertinya itu bagus juga, aku setuju ! ayo, kau ingin merayakannya dimana?” Jawabku membalas.

Jinyoung memang pintar, setelah ujian yang menegangkan ini, lebih baik menghilangkan penat dengan acara makan-makan. Tidak usah terlalu mewah, yang paling penting adalah, kebersamaan dan cinta yang terjalin sesama sahabat.

“Menurutku, bagaimana di Restoran Kimchi. Kudengar disana makanannya enak, harganya pun juga tidak terlalu mahal.” Usul Jinyoung.

“Wah, sepertinya menarik, dimana itu?”
Spontan aku senang dengan usulnya, aku memang ingin melakukan acara ini dengan Jinyoung.

“Di jalan yoon no. 2, tapi.. sepertinya disana akan sangat ramai, dan penuh sesak. Apa kita ganti restoran saja? Tapi, aku tidak tahu restoran murah dimana lagi, uangku sudah menipis, tapi tidak masalah kalau kamu ingin makan makanan mahal.” Jelas Jinyoung panjang lebar. Aku tidak ingin membebaninya.

“Ah.. tidak apa. Aku setuju jika kau mau, aku akan datang disana. Bagaimana kalau Jam 8 malam ?” Tanyaku bersemangat.

Hmm.. baiklah, aku tunggu di Restoran Kimchi, jangan sampai telat ya, aku sangat menantikan kedatanganmu.” Ucap Jinyoung dengan raut muka yang tampak sangat memohon.

“Baiklah, aku tidak akan telat.” Kataku dengan senyuman manis. Yang mungkin akan membuat dia percaya dan akan memegang janjiku ini.

Setelah percakapan singkat itu, aku dan jinyoung berpisah di pertigaan. Karena rumahku berbeda jalur dengan rumahnya, ini memang sudah seperti kebiasaan rutin. Aku senang dan sangat bangga memiliki temakn seperti dia, dia seperti kakak bagiku, walaupun.. terkadang seperti pacar. Tapi, dia adalah teman. Sekali teman, tetaplah teman. Ya, Jinyoung.. teman baikku.

Beberapa menit kemudian, sampailah aku dirumah, dengan muka yang senang.  Aku langsung berlari menghampiri Eomma dan Appa, yang kebetulan sedang tidak bekerja.

Eomma !! Appaa !!! Aku lulus !!!” Teriakku dari jauh menghampirii mereka yang sedang berada di ruang tamu.

“Benarkah Sang He ?? Wahh.. chukkhae!!” teriak eomma dengan nada senang. Aku bangga mendengarnya.

Chukkae Sang He !! Appa dan Eomma sangat bangga padamu !!” kata appa melihatku bangga.

Aku sangat senang melihat orang tuaku bangga dan senang karenaku. Tanpa sadar, Eomma dan Appa memelukku dengan erat. Terlihat Eomma menangis bahagia, ini adalah tetesan air mata kebanggaan. Aku bisa merasakan, betapa senangnya mereka.. tekat dan semangatku semakin kuat. Bahwa, belajar dan berprestasi adalah kunci membalas budi untuk orang tua. Aku senang jika sudah bisa membanggakan mereka, walaupun ini masih sangat kecil, untuk bisa membalas budi mereka.

Saat suasana kembali normal, kami seperti biasa berbincang-bincang ringan.

“Sang He, kau sudah ada universitas yang ingin kau tuju? Masih ada waktu 3 bulan untuk memikirkannya, sampai waktu ujian masuk.” Tanya Eomma padaku.

Hmm… mungkin aku memilih universitas Seoul, sama dengan Jinyoung, berkas-berkas nya juga sedang diatur oleh sekolah.” Jawabku, aku memang sangat ingin satu universitas lagi dengannya.

Beginilah keseharianku, orang tua ku memang selalu telat jika membicarakan tentangku. Karena mereka sangat sibuk bekerja. Alhasil, aku menjadi kurang mendapatkan perhatian darinya, walaupun kita satu atap. Tapi, rasanya seperti tinggal di daerah yang jauh dari kasih sayang orang tua.  Walaupun begitu aku masih bisa merasakan kasih sayang mereka, seperti pada waktu ini.

Wah, bagus jika begitu, Jinyoung juga masuk ke universitas yang sama denganmu? Berarti Jinyoung harus bisa menjagamu nanti ya, haha.” Saut appa dengan nada bercanda.

“Haha, Appa ! kau bisa saja, kita memang selalu bersama. Tapi, Jinyoung hanyalah temanku, tidak lebih.” jawabku dengan muka yang mulai memerah, aku tidak tahu mengapa mukaku bisa memerah secara tiba-tiba.

“Tapi.. kalau bisa dilanjutkan kenapa tidak??” Rayu eomma. Mataku membulat ketika mendengar perkataan Eomma.

“Ahaha, bisa saja. Oiya, ngomong-ngomong, nanti malam aku akan pergi merayakan kelulusan, di restoran kimchi. sekitar jam 7 aku harus berangkat.” Ucapku mengganti topic pembicaraan. Aku tidak mau memperlihatkan wajah merah ini.

Wah, kalau begitu kau harus bersiap, ini sudah mau jam 5. Tapi, sama siapa kau akan merayakan kelulusan itu?” Tanya Appa penasaran.

Hmm…. Samaa… siapa yaa..” Kataku dengan nada bercanda. Kelakuanku menjadi kacau ketika mendengar ini.

“Sang He.. jawabb.” Tambah Eomma penasaran.

“Dengaann…  Jinyoung ahaha..”  Akupun langsung pergi meninggalkan ruang tamu, dan berteriak.

Segera aku naik tangga menuju kamar dengan raut muka yang masih menahan tawa. Memangnya, kenapa jika aku dengan Jinyoung? Kita hanya teman, tidak lebih. Kenapa semuanya ingin aku jadian dengan Jinyoung?

Sang He POV end

Author POV

Setelah Sang He pergi meninggalkan ruang tamu. Terjadi perbincangan kecil diantara Appa dan Eomma Sang He.

Appa, kau tahu apa?”  Tanya eomma, tatapan matanya seperti menyimpan banyak rahasia.

Wae?” Tak kalah, Appa yang penasaran.

“Akankah anak kita akan tumbuh benih-benih cinta?” Tanya eomma dengan senyuman.

“Haha, mungkin saja anak itu akan menjalin cinta dengan orang yang benar benar-dipilihnya.” jawab appa bangga.

“Ya, eomma juga yakin. Anak itu.. pasti akan segera menemukan separuh cintanya.”

Mereka hanya tertawa kecil membincangkan hal itu. Dan, hanya bisa menunggu kepastian yang sebenarnya.

Author POV end

Sang He POV

Sekitar 1 jam aku bersiap untuk pergi keacara pesta kecil-kecilan ini. Aku harap dinner ini bisa jadi acara yang berkesan. Dan,  tak akan aku lupakan seumur hidup.

“Sang He! ayo, Eomma dan Appa akan mengantarmu. Apa kau sudah selesai?” Teriak Eomma dari bawah.

Ne, tunggu sebentar !!” Sautku cepat.

Beberapa menit kemudian, aku segera turun. eomma dan appa sudah menunggu didalam mobil.

Mianhae Eomma, Appa, aku agak lama sebentar.” Kataku sambil menyisir rambutku yang sedikit kusut.

Gwaenchana, sudah cantik kok… Jinyoung pasti langsung meleleh melihatmu.” Kata appa merayu.

Ah, Ani.” Segera ku masukkan sisir itu dalam tas, karena wajahku menjadi memerah seketika.

Di perjalanan, aku hanya bisa duduk manis. Dan, pastinya tidak sabar untuk datang dan bertemu Jinyoung di restoran itu. Tapi, sepertinya takdir berkata lain, ditengah perjalanan terjadi kemacetan yang sangat padat. Sampai sampai mobil tidak bisa bergerak.

“Yaampun… Eottokhee??” Teriakku kebingungan.

“Sang He, sepertinya kau tidak bisa tepat waktu menghadiri acara itu.” Ucap eomma khawatir.

“Yaampun, bagaimana ini??” ucapku kebingungan, ini sudah sangat darurat. Jam 8 tinggal 15 menit lagi, bagaimana ini? Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Sejenak, aku teringat ucapan Jinyoung, bahwa disekitar jalan menuju restoran Kimchi akan sangat ramai. Dan, kata-kata yang paling ku ingat.. aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan telat melebihi jam 8! Tuhaan! bantulah aku!

Sejenak aku berfikir, dan…  aku ada ide yang bagus! Mungkin ini sedikit gila.

Eomma, Appa, aku turun disini, dan aku akan jalan menuju restoran itu! restoran itu tidak jauh, hanya melalui perempatan yang macet ini !” Kataku dengan tergesa gesa. Aku harus meyakinkan mereka.

“Apa kau sanggup? Ini sangat macet, mobil tidak bisa bergerak !” Ucap Eomma melarangku.

Gwaenchana Eomma, aku akan hati-hati, percayalah !” Ucapku meyakinkan Eomma.

“Kalau kau bisa, tidak apa, segeralah! Kasihan Jinyoung. Pasti dia sedang menunggu sendirian di restoran itu !” Saut Appa menandakan adanya izin untukku.

“Yasudah, hati hati  Sang He !!” Teriak eomma, mukanya menandakan kekhawatiran yang mendalam. Tapi, bagaimana lagi, aku sudah janji dengan Jinyoung. Dan, janji ini tidak bisa aku batalkan, aku sudah banyak merepotkannya. Aku tidak mau menambah beban untuknya.

Segera aku keluar dari mobil. Sejenak aku melihat sekeliling. Ini memang sudah sangat kacau. Kenapa kota yang sudah kutempati sejak ku lahir ini bisa semacet ini. Tidak fikir panjang, aku segera berlari, menapaki trotoar tua ini. Seringkali, hatiku tidak tenang mengingat ucapan Jinyoung dan janji ku saat itu.

Sepertinya aku memang orang yang tidak peka dengan sekeliling. Jalanan ini sudah penuh sesak dengan gerumunan orang dan lalu lalang mobil yang seakan akan ingin menabrak sekelilingnya. Aku sudah seperti berada di neraka dunia, berjalan di tengah jalan yang sedang macet parah bukan jalan keluar yang benar. Rasanya aku ingin bisa terbang kesana kemari seperti malaikat. Ya, mungkin aku bisa saat aku sudah meninggal. Semua yang tidak ku ketahui, akan ku ketahui dengan mudah.

Ini sangat tidak karuan, aku yakin, Jinyoung sedang menunggu di restoran itu. Aku harus segera cepat. Tapi, banyak debu dimana-mana. Astaga, mataku! Tidak sengaja debu memasuki mataku!! Penglihatanku semakin kacau. Ditambah bau kendaraan bermotor disekeliling, bunyi klakson kendaraan yang berisik, dan silaunya lampu kendaraan yang sangat membuat seluruh indra ku berantakan. Aku berjalan dengan sangat kacau, seperti seorang yang habis mabuk. Aku sudah tidak bisa mengendalikan tubuh ini. Seperti, boneka yang sedang dikendalikan.

TIINNN !!!! TIINNN !!!!!!!

Suara apa itu? Silau sekali! Tanyaku lirih dalam hati. Kucoba untuk membuka mata ini dengan perlahan. Apa itu??

TIINN !!! TIINN !!!

ASTAGA ! Ada mobil yang menuju tepat kearah ku ! Apa ini sudah saatnya aku bisa terbang melayang dilangit? Meninggalkan janjiku dengan Jinyoung yang akan datang tepat waktu?  dan janjiku dengan Eomma dan Appa yang akan pulang dengan selamat? Ya Tuhaan.. mungkin ini sudah takdirku, maaf.. untuk semua yang telah menungguku..

BRUUUUGHH!!!!!

Dan sekarang, aku hanya bisa bilang..

MAAF….

Jinyoung POV

Kududuk di salah satu tempat di Restoran Kimchi ini. Aku menunggu sendirian, dimalam yang dingin dan licin ini, terjadi kemacetan yang luar biasa sangat parah. Aku hanya bisa menunggu Sang He sambil menyantap makanan pembuka dari restoran ini. Sudah kutunggu hampir 2 jam lamanya, mataku tidak bisa berhenti melirik kesana kemari. Melihat, apakah Sang He sudah berada di sekitar sini.

Kuharap, tidak terjadi apa apa dengan Sang He, sekejap perasaanku menjadi tidak tanang. Pikiranku tidak henti-hentinya memikirkan Sang He. Padahal, hari ini sudah sangat kunantikan untuk menyatakan perasaanku padanya.  Andaikan Ia tau, aku sudah cukup lama menanti untuk hal ini. Sekarang, aku hanya bisa berharap saja. Tiba tiba jantungku makin tidak tenang, tanganku bergemetar.

Sudahlah Jinyoung.. tidak ada apa apa dengan Sang He, tenanglah.. karena, mala mini akan menjadi malam terindah untuk selamanya. Hari dimana, aku mengetahui jawabannya.

“Permisi Tuan, ini Ocha pesanan Tuan,”
Tiba-tiba pelayan menghampiriku dan memberikan secangkir Ocha.

Ah, ne Gamsahamnida.” Jawabku pelan, tanganku segera mengambil teh yang sedang dipegangnya..

DEGGG…

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang, ada apa yang terjadi? Tanganku menjadi kaku, mataku mulai berkunang, pikiranku menjadi kacau memikirkan Sang He, apa yang terjadi?

KROMPYAANGGGG !!!!

“Astaga, mianhae tuan.”
Saut pelayan itu dengan raut wajah yang cemas. Terlihat orang orang disejitar serentak melihatku heran, tapi aku tidak peduli. Abaikan saja mereka. Sekarang yang terpenting hanya Sang He.

Ah, gwaenchana, ini, aku bayar ganti rugi, dan makanan pembuka ini ya!” Jawabku dengan tergesa gesa.

Ne, terimakasih tuan..” jawab pelayan itu.

Tidak mengulur waktu penjang, segera aku berlari keluar dari restoran itu. sekejap orang orang melihatku heran. Tapi, aku tidak peduli. Karena.. sepertinya ada yang terjadi dengan Sang He saat ini. Aku yakin Sang He bukan tipe wanita yang ingkar janji.

Kuberlari dengan sekuat tenaga di pinggiran jalan ini. Sangat macet, berisik, ramai, kotor. Semuanya tercampur menjadi satu. Pikiranku menjadi runyam.  Kulihat sekeliling, dimana-mana terdapat mobil, motor yang berlalu-lalang. Tapi, aku melihat ada keanehan..

Terdapat sekerumunan orang, ada apa disana? Hatiku terus bertanya. Perasaan ku menjadi tidak tenang. Rasanya, darah ini sudah berhenti mengalir ke urat nadiku. Segera ku hampiri kerumunan itu. kakiku menjadi kaku, seakan akan. ini adalah bertanda buruk. Tanganku menjadi dingin, keringat mulai bercucuran.

Segera aku memasuki kerumunan penuh sesak itu dan bertanya..

“Permisi, ada apa in…”

SANG HE???????

Jinyoung POV end

Tentang iklan-iklan ini

3 Tanggapan to “[FF] Life is Valueable (Part 1)”

  1. iea 2 Agustus 2014 at 6:37 PM #

    knp rasany menyedihkan y..tp bagus bgt..

Trackbacks/Pingbacks

  1. [FF] Life is Valueable (Part 2) | Korean Chingu - 29 Oktober 2012

    […] Part 1 […]

  2. [FF] Life is Valueable (Part 3) -END « Korean Chingu - 6 Mei 2012

    […] Part 1 | Part 2 […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31.073 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: