[FF] 12 to 13 (Part 2)

4 Jun

Lanjutan FF part 1 nih… ^^ Enjoy…

12 to 13 part 2 (Kibum’s Clearful Smile)

“Maaf, kalau begitu saya salah kamar. Permisi.”

Aku tahu mengetuk pintu sama sekali nggak sopan, apalagi kalau mengetuk pintu orang kayak yang mengusirku ini. Sialnya, harus ditendang bak kucing garong hasilnya. Aku melanjutkan bertanya dari satu kamar ke kamar lain sambil pasang wajah innocent dan senyum mengembang. Umma bilang di masa-masa ini nggak banyak orang Korea yang mau menaruh senyum saat bertamu. Aduh, Umma, ini kan bukan bertamu tapi mencari kamar! Habislah aku, kurasa aku berada di tempat yang salah.

“Alamatnya benar, kok,” kata staff SM yang berlagak mengguruiku. “cari saja dan tanyakan di mana kamar mereka.”

“Oke, saya coba lagi,” kataku separo kesal. Sudah terlalu larut, bahkan tubuhku sudah pegal-pegal sejak tadi pagi latihan. Kesempatan yang hebat. Aku diperbolehkan debut setelah tiga bulan! Kenapa aku senang? Yah, tahu sendiri kan kalau trainee yang lain butuh bertahun-tahun untuk debut?

Maka, atas saran si staff, aku pun mengunjungi lantai 11. Alamat terakhir yang benar-benar bikin aku harap-harap cemas. Aku masuk ke dalam lift sambil memencet tombol. Tiba-tiba saja, aku bertubrukan dengan seorang pemuda bertopi. Wajahnya nyaris tak kelihatan karena topinya dipakai sedikit ke bawah. Ia juga memakai jaket sport biru yang kerahnya sampai ke dagu. Itu lho mirip Hyun Bin waktu main di Secret Garden! Nggak tahu? Sering-seringlah melihat “kotak persegi listrik” di rumahmu dan kau pasti akan mengenalnya.

“Hey, perhatikan jalanmu!” teriakku. Rasa capek yang berlebih plus geregetan membuatku emosi. Pemuda itu berjengit sedikit, menatapku lurus-lurus, lalu pergi.

“Orang eksentrik,” komentarku membatin. “Mana bisa ada orang yang bisa terancam hanya dengan tatapan mata seperti itu?”

Akhirnya, aku pun tiba di lantai 11. Kamar-kamar masih berderet di sekitarku. Dengan lagak seperti yang sudah kucantumkan, aku mengetuk salah satu pintu.

“Selamat malam… Sillyehamnida…”

Seorang wanita yang hanya memakai jas mandi membuka pintu, tiba-tiba…

BRAAAK!

Nah, ketidakpihakan Dewi Fortuna mulai lagi. Wanita itu jelas tahu diri kalau dia masih memakai jas mandi, tapi ya nggak segitunya juga kali! Toh dia tampak nggak sibuk-sibuk amat. Benar juga nasehat Umma tadi pagi, ‘Kalau mandi jangan lupa tutup pintu.’ Yah, setidaknya dari sekian ratus nasehatnya, inilah yang terbukti nyata.

Aku meneruskan pada kamar yang lain. Hasilnya sama saja hingga aku mulai putus asa. Sampai akhirnya, kutemukan kamar yang lokasinya di pertengahan koridor. Dekat sekali dengan jendela keluar tempat mengawasi suasana kota. Aku melihat bahwa kamar itu memiliki bel. Kubunyikan bel itu.

Seorang laki-laki berambut pirang membukakan pintu. Untuk kesekian kalinya, pendapat Umma soal cowok-cowok berambut pirang ada semua pada lelaki ini. Dia tampak sedikit ‘nakal’ tapi wajahnya luar biasa ceria dan ramah. Meskipun sisa-sisa kelelahan tampak di kedua matanya yang berlingkar hitam. Rambutnya juga tidak pirang alami, melainkan dicat. Aku berani taruhan Kangta akan sangat menyukai bentuk rambut itu.

“Eh, selamat malam,” sapaku dengan senyum yang sama. “Boleh tanya, apakah di sini kamar member Super Junior 05? Ada staff SM yang menyuruhku kemari menemui mereka.”

“Oh, ya?” tanya lelaki itu, matanya melayang pada kartu nama yang ternyata masih kukenakan. “Wah, kamu pasti seorang trainee!”

“Ap—oh—iya,” kataku putus-putus.

Laki-laki pirang itu tak lekas menjawab pertanyaanku, malah memanggil ke dalam kamar, “RYEOWOOK! Apakah dia yang kamu maksud sebagai trainee yang mau ke sini?”

“Apa?” terdengar suara Ryeowook dari dalam kamar. “Wah, aku segera datang, Hyung.”

Dia memanggil cowok nyentrik dihadapanku ini Hyung? Apakah dia ini kakaknya atau apa?

Ryeowook tergopoh-gopoh menuju pintu. Dia langsung menyalamiku.“Ah, masuk kemari, ayo! Kami sudah menunggumu sejak lama.”

“Ta-tapi, kalian belum jawab pertanyaanku, di mana kamar member Super Junior 05?” tanyaku bingung.

“Eh, Dik, masih banyak yang perlu kau pelajari soal kami, ayolah!” kata si lelaki pirang. “Omong-omong, Yonho-Ssi sering cerita ke aku kalau skill bernyanyimu bagus. Kamu juga sopan dan—meskipun agak sembrono—sangat care pada yang lain.”

Aku terperangah. Merasa sangat tolol dan ndeso karena tidak terlalu mengenal mereka. Waktu di TV, aku sering melihat wajah-wajah mereka, tapi aku kurang hafal siapa saja mereka karena aku bukan fans fanatik. MV ‘Twins’ dan ‘Miracle’ sudah kutempel di komputerku, tapi jarang kutonton, bahkan kuisolasi rapat. Maklum saja aku lebih suka membuka internet daripada menonton video-video semacam itu.

Lelaki pirang itu meneruskan. “ Tapi, mula-mula sekarang dimulai dulu dari awal. Aku Eeteuk, panggilanku begitu. Siapa namamu?”

“Mmm, aku…”

“Hey, nggak usah malu-malu, si Tua Bangka ini nggak akan menggigitmu, kok,” canda Ryeowook. Kemudian terbelalak karena Eeteuk menatapnya seperti melihat monster. “Hyung, nggak usah ngalay ngapa?”

Belum sempat aku menjawab, seorang pemuda bertubuh—sori—lebar muncul dari sisi kamar yang lain. Rupanya kamar itu memiliki koridor yang pas untuk 8 orang plus dapur kecil. Hanya saja, pakaian yang berserakan dan kain lap membuatnya makin sempit.

“Wah, akhirnya datang juga, aku tahu dari mereka kamu akan datang!” serunya gembira. Ia juga menyalamiku dengan sukacita. “Dik, panggil aku Shindong, tapi kalau kamu sudah resmi jadi member kita, kamu bisa panggil aku—juga dua makhluk ini—dengan Hyung.”

“Yah, kalau aku nggak bisa?” kataku pendek. Sialnya, Eeteuk tampak tersinggung dan membalas, “Dik, ada akan menghukummu jika kau tak melakukan itu. Hal ini juga akan bikin orangtuamu pening karena kau tidak menghormati orang lain.”

“Aku menghormati kalian,” kataku, sedikit kaget. “Lagian, Umma dan Appa tahu apa yang kulakukan (kecuali mungkin Appa yang akan menghukumku kalau tahu aku nggak sopan pada seniorku) dan mereka takkan pening karena merasa bahwa aku tak direndahkan.”

Eeteuk menghela napas. “Oke, terserah, tapi untuk apa SM menyuruhmu datang kemari kalau hanya untuk mengagetkan kami?”

“Aku diminta meminta pengakuan,” jawabku. “kalau aku adalah member kalian, bukannya trainee amatir yang meminta kesempatan menemui kalian. Dan aku harus tinggal di sini untuk memulai proses debut dan mengakhiri masa trainee-ku.”

“Kalau begitu kamu sudah diakui,” kata Shindong cepat-cepat. “Besok hari pertama kita latihan, jadi kita harus—eh, Eeteuk Hyung, Kibum kok lama banget beli mie-nya?”

“Macet kali,” kata Eeteuk. “Lagian sih dia nekat malam-malam begini. Aduh! Tidak! Dia juga membawa jaket sport yang mau kucuci buat besok!”

“Jaket yang mana?” tanya Ryeowook.

“Yang biru.”

Aku langsung teringat pemuda yang menubrukku waktu di lift. Saat itu, aku melihat pemuda yang sama masuk ke pintu. Dia sudah melepas topinya, sekarang terlihat bahwa wajahnya lumayan tampan dengan mata sayu yang turun. Kibum memang terlihat ‘sadis’ dari luar, tapi senyumannya yang terkembang menghapus kesan-kesan itu.

“Teukie, maaf tadi aku pinjam jaketmu tanpa izin,” katanya nyengir. “Nih, aku balikin lagi. Hey, kamu bukannya yang di lift itu? Ada perlu apa di sini?”

“Ini member terakhir kita,” kata Shindong. “Masa cleaning service?”

Tiba-tiba, Eeteuk berseru, “Nah, untuk menyambut si maknae ini, gimana kalau kita adakan “lomba” bersih-bersih? Siapa yang paling cepat bersihin lorong ini, dia yang boleh tidur di kamar pribadi. Gimana?”

“Ah, Hyung, kami capek sekali,” keluh Ryeowook.

“Ya, dan sangat pegal,” Kibum menimpali.

“Ayolah, kasihan kalau si Sungmin atau Donghae terus yang bersihin,” kata Eeteuk. “Nah, maknae—“ dia menatapku—“kamu ambil bagian di dapur sana, ya. Siap-siap, 1… 2… 3!”

Kami pun memulai permainan itu dengan enggan. Aku apalagi. Karena menurutku ini kekanak-kanakan. Tapi, aku ingat betul tujuanku apa. Aku harus menginap di sini. Mau tidak mau harus ikut. Tapi, aku benar-benar lugu waktu itu sehingga memungut sampah dengan jumlah terbanyak. Akhirnya, diputuskanlah kalau aku yang memakai kamar ‘pribadi’ itu.

Mirisnya, ternyata kamar pribadi itu adalah di sebelah dapur persis. Kasurnya cuma satu layer tanpa bed cover dan selimut. Hanya ada satu bantal dan satu guling. Kamar itu diterangi satu lampu putih di langit-langitnya.

“Itu kamar yang kami sisakan buat maknae kami,” kata Eeteuk. “Dulunya sih tempat penyimpanan kaos, tapi sekarang kami jadikan kamar.”

“Wow, bagus sekali kalau begitu,” kataku, masih memaksa tersenyum.

“Selamat tidur, ingat besok bangun pagi,” kata si leader itu. Aku didorong masuk ke ‘kamar’-ku dengan tas ransel yang kubawa. Aku hanya membawa tujuh lembar kaos biasa, jaket, mantel musim dingin, setelan timnas sepakbola Korea, dan beberapa pasang kaos kaki plus sepatu yang kupakai sendiri. Aku menata barang-barangku di loker yang tersedia. Kubaringkan kepalaku di bantal itu sambil membayangkan ketika aku debut nanti. Apa kata orang-orang? Bagaimana reaksi fans Super Junior saat mendapati ada figur aneh diantara kedua belas yang lain?

Mendadak Kibum membuka pintu kamarku. Dia seperti membawa sesuatu di balik sikunya.

“Kamu pasti belum makan malam. Cepat makan ini!” ujarnya. Aku diberi semangkuk mie plus kimchi. Mataku rasanya mau meloncat dari rongganya. Lilitan di perutku sedikit demi sedikit mulai mengendur melepas lapar.

“Jangan pedulikan Teukie, ya,” kata Kibum. “Dia juga nyaris begitu waktu menyambutku. Yah, kalau kata orang, jangan diambil hati.”

“Apa kamu juga memanggilnya Hyung?” tanyaku sambil menyeruput mie.

“Aku pernah tinggal di California, tapi cuma beberapa tahun setelah usiaku 10 tahun,” jelas Kibum. “Kami di sana tak mengenal kata Hyung atau Noona. Untunglah ibuku selalu mengajarkan tatakrama orang Korea padaku, jadi menyesuaikan diri di sini nggak terlalu susah lagi. Masalah panggilan tak berpengaruh untukku, jadi aku lebih nyaman memanggilnya Hyung atau Teukie.”

Teukie?” kataku sedikit geli.

“Nah, aku mau tidur dulu. Sini, biar aku yang cucikan…”

“Aku saja.”

“Nggak apa-apa…”

“Ayolah, biar aku, ya?”

“Kerannya di dapur tersumbat, yang berfungsi hanya di lantai bawah,” tukas Kibum. “Sekarang tidurlah. Butuh waktu lama untuk latihan besok pagi. OK?”

Dia mengatakan ‘OK’ dengan gaya American Guy yang sempurna. Mulai saat itu keadaanku terasa makin tenteram walau tak semuanya kurasakan dengan baik.

TO BE CONTINUED

Tentang iklan-iklan ini

5 Tanggapan to “[FF] 12 to 13 (Part 2)”

  1. RiaNa 29 Juni 2012 at 4:42 PM #

    Lanjut kaaaak…

  2. kim ryerin 14 Juni 2012 at 8:53 AM #

    lanjutannya mana kak???

Trackbacks/Pingbacks

  1. [FF] 12 to 13 (Part 5) « Korean Chingu - 15 Juli 2012

    [...] 12 to 13 (Part 5) Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part [...]

  2. [FF] 12 to 13 – Shouts and Showcase (part 4) « Korean Chingu - 7 Juli 2012

    [...] 12 to 13 – Shouts and Showcase (part 4) Part 1 | Part 2 | Part [...]

  3. [FF] 12 to 13 (Part 3) « Korean Chingu - 7 Juli 2012

    [...] [FF] 12 to 13 (Part 3) Part 1 | Part 2 [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31.065 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: