[FF] Haebaragi (Oneshoot) -Special from winners-

17 Jun

Annyeong haseyo kochiezdeul (:

Kali ini admin gak berbagi FF Freelance ataupun FF-nya admin. Masih inget lomba KC Show your Creativity, kan? Nah, dari salah satu lomba, tepatnya Lomba FF diambil 3 pemenang. Dan ini dia FF dari pemenang pertama -^^- Enjoy!

Data diri :

Nama                      : Luh Putu Diah Tri Cahyani

Twitter                    : @FreyaClouds_ELF.

K-idol yang dipilih  : Im Yoona (SNSD)

 

Title                         : Haebaragi.

Genre                      : Romance Sadness.

Length                     : Oneshoot.

Author                     : Kim Kumiko.

Cast                         : Im Yoona (SNSD), Lee Donghae (Super Junior), Kim Jongwoon/Yesung (Super Junior).

Disclaimer              : This FanFiction is my imagination. Please don’t bashig or plagiarism!

 

Cinta itu terlahir suci. Walaupun tidak ditakdirkan bersama, cinta itu akan tetap suci. Dan cinta yang suci takkan pernah mati.

“Yoong~”

“Hae oppa!” Yoona berlari kecil menuju kekasihnya yang dengan setia menunggunya di depan rumah, Donghae.

“Oppa menunggu lama? Aish, kenapa masih sangat dingin? Bukankah musim dingin akan segera berakhir?” gumam Yoona sambil membenahi letak syal Donghae.

Donghae menggeleng lembut, “Tidak bila aku harus menunggu untukmu.” Jawabnya dan berhasil membuat pipi Yoona bersemu merah.

“Ah, oppa~ Kajja!” kata Yoona manja lalu melingkarkan tangannya ke lengan Donghae. Ia menariknya pelan menuju Myeongdong, tempat dimana mereka akan menghabiskan waktu bersama. Walaupun musim dingin belum berakhir, Yoona tetap merasa hangat. Sesekali ia membenarkan letak mantel hadiah ulang tahun dari Donghae setahun lalu. Baginya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain bersama dengan Donghae. Bersama selamanya seolah takkan terpisahkan.

Donghae tersenyum lalu menggandeng tangan Yoona. Menggenggamnya erat seolah itu benda berharga yang tidak boleh lepas. Bagi Donghae, Yoona adalah segalanya. Yoona bukan saja separuh dari nyawanya, tapi Yoona lebih dari itu. Yoona adalah dia. Ia dan Yoona adalah satu.

***

Myeongdong, 25 February 2008.

19.15 KST

“Huaahh…akhirnya sampai juga…aku lapar sekali, oppa~” Yoona dan Donghae masuk ke sebuah kedai jjangmyeon di tengah-tengah Myeongdong. Mereka langsung duduk di sebuah meja kosong di dekat jendela. Sebenarnya Donghae sudah menawari restoran mahal untuk kekasih tercintanya, namun Yoona lebih memilih kedai kecil ini. Lebih hangat, katanya.

“Oppa juga lapar. Kau mau pesan apa? Super pedas?” tanya Donghae sambil membaca daftar menu.

“Ummm…terserah oppa saja.” Jawab Yoona sembari tersenyum lembut. Senyuman yang sangat disukai Donghae.

“Baiklah, oppa akan memesan jjangmyeon tornado untukmu. Lima porsi dan harus habis!” kata Donghae semangat sambil menunjukkan gambar jjangmyeon super pedas pada Yoona.

Yoona mendelik, “Yak! Oppa! Itu terlalu pedas! Kasihan perutku~”

“Justru bagus! Setelah makan kau akan langsung ke kamar kecil, itu artinya pencernaanmu lancar.”

Yoona mengerucutkan bibirnya sebal, lalu memukul pelan lengan Donghae.

Donghae meringis kecil, lalu mereka tertawa. Tertawa lepas tanpa beban, tanpa takut akan takdir seperti apa yang telah menunggu mereka.

“Im Yoona? Lee Donghae?” sebuah suara indah membuat tawa mereka berhenti sejenak.

“Hyung?”

“Oppa?” kata Yoona dan Donghae berbarengan.

Jongwoon tersenyum melihat kehangatan dua sejoli ini. Kebahagiaan yang mereka ciptakan membuat Jongwoon merasa tenang melepas rasa yang mengganjal hatinya. Sakit, namun…ia turut bahagia.

“Hei…tak kusangka akan bertemu kalian disini.” Kata Jongwoon lalu duduk semeja dengan Yoona dan Donghae.

“Hyung, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Donghae ramah.

“Wah, oppa terlihat makin tampan.” Kata Yoona.

“Hahaha…kalian bisa lihat sendiri aku baik-baik saja. Ah, ne…semakin hari aku memang semakin tampan, Yoona.”

“Dan semakin narsis.” Jawab Yoona dan Donghae berbarengan. Membuat Jogwoon tersentak lalu tertawa kecil. Kompak sekali pasangan ini.

“Sillyehamnida, anda mau pesan apa?” seorang gadis cantik menghampiri mereka sambil membawa catatan kecil.

“Tiga porsi jjangmyeon yang biasa. Hyung? Yoong~?” kata Donghae sambil menatap Jongwoon dan Yoona. Mereka berdua mengangguk setuju. “baiklah, itu saja.” ucap Donghae sambil tersenyum.

Saat pelayan itu pergi, mereka bercengkrama lagi seperti biasa. Seperti yang sering mereka lakukan lima tahun lalu.

Lima tahun. Cukup lama untuk membangun sebuah ikatan persahabatan layaknya saudara. Itulah yang terjadi pada mereka bertiga. Jongwoon tersenyum miris di sela-sela percakapannya dengan Yoona dan Donghae ketika mengingat hari-harinya sejak lima tahun lalu, sejak ia, Yoona dan Donghae pertama kali menginjakkan kaki di SMA yang sama.

Mereka bertemu saat makan siang di kantin sekolah. Entah mengapa mereka sangat cepat akrab padahal baru saja mereka mengenalkan nama masing-masing.

Saat itulah rasa itu mulai tumbuh di hati Jongwoon. Rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, yang ia abaikan hingga tiga tahun lamanya. Akhirnya Donghae-lah yang memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Yoona. Dan Yoona menerimanya.

Itu pertama kalinya ia merasakan patah hati. Namun ia juga bahagia, mengingat yang akan menjaga Yoona adalah Donghae, sahabatnya.

Dua tahun ia berusaha menyingkirkan perasaan itu dengan caranya sendiri. Yoona dan Donghae mengajaknya kuliah di universitas yang sama namun Jongwoon menolaknya. Lalu setelah itu, Jongwoon mulai menjauhi kedua sahabatnya ini.

Namun ia tidak bisa. Rasa itu terlalu dalam menancap di hatinya seperti luka yang meninggalkan bekas. Tidak akan hilang seberat apa pun Jongwoon berusaha.

Hari ini, Jongwoon kembali merasakan sakit. Tapi…kali ini ada rasa lega yang menyelimuti hatinya dan menyembunyikan rasa sakit itu. Ia bahagia melihat Yoona dan Donghae bahagia.

“Wah, kalian semakin hari semakin menempel saja. Aku jadi iri.” Kata Jongwoon dengan mimik muka sebal yang dibuat-buat.

“Oppa bisa saja. Oppa terlalu sibuk…makanya carilah kekasih, oppa~” kata Yoona manja. Dia memang selalu terlihat manis, pikir Jongwoon.

“Hahahaha…Yoona benar, hyung. Kau bahkan terlalu sibuk sehingga tidak sempat menemui kami. Sekali-kali kau harus kencan, hyung.” Usul Donghae. Jongwoon tersenyum miris. Tidak. Ia tidak bisa. Yeoja seperti Yoona hanya ada satu dan sayangnya Jongwoon tidak bisa memilikinya.

“Kalian sedang apa disini?” tanya Jongwoon mengalihkan pembicaraan.

“Menonton film, hyung. Tentu saja makan!” jawab Donghae lalu tertawa bersama dengan Yoona.

“Pertanyaanmu ada-ada saja, oppa. Memangnya kau kemari untuk apa?” tanya Yoona sesekali terkikik.

“Aku? Aku mau mandi makanya kesini, hahahaha…”

Mereka bertiga tertawa lepas. Seolah kembali ke masa lalu, lima tahun lalu saat mereka masih menjadi sahabat.

“Sillyehamnida, ini pesanan anda.” Gadis yang sama dengan gadis yang mencatat pesanan Donghae kembali dengan tiga porsi jjangmyeon. Gadis itu meletakkan tiap mangkuk jjangmyeon di depan Donghae, Yoona dan Jongwoon lalu membungkuk dan pergi.

“Wuaaahh…kelihatannya enak,” kata Donghae.

“Oppa, lihatlah, asapnya mengepuuul~ pasti hangat sekali!” kata Yoona bersemangat.

Dan malam itu mereka benar-benar kembali ke masa lalu. Masa di mana pertama kali mereka bertemu dan memakan jjangmyeon bersama.

***

Yoona dan Donghae berjalan pelan diatas salju yang mulai menipis di jalanan Myeongdong yang selalu ramai bahkan saat salju belum juga sirna. Tangan mereka bertaut erat dan tangan satunya memegang es krim. Aneh memang, namun dinginnya es krim tidak akan membuat mereka sakit. Mereka malah menikmatinya, asalkan mereka bersama.

Mereka berpisah dengan Jongwoon setengah jam lalu. Jongwoon bilang ia akan ke Handel and Gratel, coffeshop milik keluarganya. Jongwoon menyuruh Yoona dan Donghae mampir dan Donghae berkata kapan-kapan saja. Jongwoon baru sadar kalau Yoona dan Donghae sedang berkencan.

Sedari tadi Donghae terus menatap Yoona tanpa bosan. Cantik.  Orang bilang cantik itu relative tapi bagi Donghae, cantik yang dimiliki Yoona adalah cantik yang sebenarnya. Cantik yang sempurna.

“Oppa, lihat itu! itu indah se…” Yoona menghentikan kata-katanya saat matanya bertemu dengan mata indah milik Donghae. Sejenak mereka terpaku. Mata itu, baru kali ini Yoona benar-benar menatap mata Donghae secara intens.

Indah, batinnya. Bahkan lebih dari itu. Yoona sering membaca novel yang menggambarkan mata seseorang yang begitu indah, lembut, menyejukkan, dan sebagainya. Namun ketika menatap mata Donghae, semua ungkapan itu tidak berarti. Mata Donghae lebih dari sekedar indah, karena mata itu adalah mata yang suci. Karena mata itu milik orang yang sangat ia cintai.

Donghae tersenyum lembut. Memberi kehangatan pada Yoona. Sungguh,jika ia mampu, ia ingin menghentikan waktu saat ini juga. Bersama dengan Yoona seburuk apa pun keadaanya. Yang ia inginkan hanya bersama Yoona.

Pipi Yoona bersemu merah. Membuat Donghae gemas dan mencolekkan es krimnya ke hidung Yoona. Membuat Yoona terkejut dan membulatkan matanya.

“Yak! Oppa! Awas kau!”

“Hahahahaha…” Donghae berlari kecil meninggalkan Yoona yang berusaha mencolekkan es krimnya pada hidung Donghae. Dengan cekatan Yoona melewati setiap keramaian demi menemukan Donghae dan memberi pelajaran pada kekasihnya itu.

“Hap!” Yoona mencengkram pundak Donghae lalu mencolekkan es krimnya ke hidung Donghae.

“Yak!”

“Hahahaha…rasakan itu, oppa! Huahahahaa…”

“Yoong~ dasar jahil! Lihat hidung oppa!”

“Hahahaha…oppa dulu yang mulai! Lagipula ini menyenangkan! Coba lihat wajah op—aigo!” Yoona terkesiap begitu melihat cairan merah yang keluar dari hidung Donghae.

“Oppa, hidungmu kenapa?! Hidungmu berdarah!” kata Yoona panik. Ia bahkan menjatuhkan es krimnya.

Donghae yang menyadari itu segera mengelap hidungnya dengan punggung tangannya.

“Oh, ini…sepertinya aku kedinginan, jadi aku mimisan…” kata Donghae berusaha terlihat baik-baik saja dan berusaha menyembunyikan kekhawatiranya. Kekhawatirannya akan penyakit yang dideritanya. Yoona tidak boleh tahu. Tidak boleh.

***

“Oppa, ini.” Yoona membelikan Donghae kopi panas. Ia terlalu khawatir sehingga tidak mau melanjutkan perjalanannya yang, Yoona tahu, sangat dingin karena salju belum sepenuhnya hilang.

Yoona berusaha membujuk Donghae untuk pulang namun Donghae adalah namja yang keras kepala. Donghae malah menarik Yoona menuju sungai Han.

Donghae menerima kopi itu. Rasa hangat menyebar di telapak tangannya.

“Minumlah, oppa. Huuh…tak seharusnya aku memaksamu membeli es krim tadi. Kenapa kau tidak bilang kalau kau kedinginan, oppa?” tanya Yoona bertubi-tubi. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan yang begitu jelas sehingga membuat Donghae merasa bersalah.

Donghae meminum kopinya. Berusaha menyesap kehangatan dari secangkir kopi itu namun ia tidak bisa. Rasanya sama dengan hatinya, dingin.

Yoona melepas syal yang dipakainya lalu memakaikannya pada Donghae. “Oppa tidak boleh kedinginan, oppa tidak boleh sakit. Arraseo?”

Donghae hanya tersenyum. Terlambat, Yoong~, batinnya.

“Yoong~nanti kau kedinginan…” Donghae berusaha melepas syal Yoona namun Yoona menghalanginya.

“Oppa, oppa jangan keras kepala. Oppa harus mendengarkanku kali ini.” Ucap Yoona tegas. Donghae menatap kekasihnya takjub. Ia sungguh beruntung memiliki kekasih seperti Yoona yang begitu mencintainya.

“Ne, arasseo~” kata Donghae lalu mengacak rambut Yoona gemas.

“Oppa~” Yoona membenahi rambutnya lalu mengembungkan pipinya, berpura-pura kesal. Donghae terkekeh pelan melihatnya.

Yoona memeluk tangan kanan Donghae dan menautkan jemari tangannya ke jemari Donghae.

“Oppa tidak boleh sakit. Jika oppa sakit, aku juga akan sakit.”

“Yoong~”

“Nde?”

“Apa kau mencintaiku?” pertanyaan Donghae barusan terasa seperti hantaman ombak bagi Yoona. Ia menatap Donghae lekat-lekat.

“Oppa bicara apa? Dua tahun kita bersama, memangnya aku tahan bila aku tidak mencintaimu?”

Donghae menatap lembut mata Yoona. Berusaha mencari kebohongan yang pada akhirnya tidak dia temukan.

“Waeyo, oppa? Oppa meragukanku?”

Donghae tersenyum. “Aniyo, oppa tidak pernah meragukanmu, Yoong~”

“Lalu kenapa oppa bertanya seperti itu?”

“Oppa hanya takut kehilanganmu…” seketika darah Yoona berdesir hebat. Ditatapnya kekasihnya meminta penjelasan. Yoona merasa hal buruk akan terjadi, namun ia menepis perasaannya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, oppa. Tidak akan pernah. Bahkan jika dunia menentang cinta kita, aku tetap tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Yoona pasti. Seolah menegaskan bahwa takdir akan berpihak pada mereka.

Donghae berusaha tersenyum untuk Yoona. Ia memalingkan wajahnya menatap sungai Han, berusaha menahan air matanya. Yoona, gadis itu begitu tulus, begitu mencintainya, begitu tidak ingin kehilangannya.

Tidak. Tidak bisa. Donghae tidak bisa meninggalkan yeoja seperti Im Yoona. Tapi…ah, dunia begitu kejam. Ia dan Yoona memiliki cinta yang suci, yang lahir tanpa paksaan, dan begitu indah. Namun kenapa dunia seolah menentang keras cinta yang seperti itu?

Donghae memejamkan matanya, berusaha meredam sakit yang terus memukul hatinya. Yoona menyenderkan kepalanya di bahu Donghae.

“Saranghaeyo, oppa.”

Perih. Padahal tiak ada luka disana, di dada Donghae. Ia tahu tidak ada harapan untuknya. Ia tahu. Karena itu ia ingin menghabiskan waktunya bersama Yoona. hanya bersama Yoona.

“Nado saranghae, Yong~”

“Oppa, lihat itu.” kata Yoona sambil menunjuk langit dengan telunjuknya. Donghae menatap langit gelap tak berbintang malam itu. Sebuah cahaya meluncur dari seberang sungai Han. Meluncur ke langit dengan bunyi khas tembakan meriam, lalu meledak dan menampakkan gemerlap percikan bunga api warna-warni.

Sebuah cahaya lain meluncur lagi. Sama dengan cahaya sebelumnya namun yang ini lebih besar, dan lebih indah.

“Indah sekali…” gumam Yoona.

“Yoong~, apa aku seperti kembang api?” tanya Donghae.

“Aniyo,” jawab Yoona. “Oppa bukanlah kembang api. Walaupun kembang api itu indah, tapi sinarnya hanya sekejap. Kembang api memang terbang menuju langit, namun ketika sampai disana ia akan meledak, memperlihatkan keindahannya, lalu menghilang bersatu dengan angin.”

“Aku…”

“Aku tidak ingin oppa seperti itu.” potong Yoona. Tiba-tiba ia merasakan kehilangan yang begitu menyesakkan. Entah kenapa, Yoona merasa akan kehilangan Donghae.

“Bagiku, oppa adalah matahari, dan aku bunga mataharinya. Matahari memiliki sinar yang abadi. Walaupun hanya setengah hari, namun matahari akan datang lagi keesokan harinya. Aku ingin oppa selamanya menjadi matahariku. Selamanya menyinari dan memberiku kehidupan…”

Kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa Donghae meninggalkan Yoona?

***

“Oppa, tak bisakah kau menginap saja?” pinta Yoona. Donghae menggeleng.

“Ini sudah malam, Yoong~ keluargaku pasti mengkhawatirkanku. Lagipula aku tidak membawa ponsel.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Aku tidak mau orang lain mengganggu kencan kita.” Ucap Donghae yang berhasil membuat pipi Yoona bersemu merah.

“Pakai ponselku saja…”

“Tidak usah…” potong Donghae cepat.

“Ya sudah, kau masuklah. Di luar sangat dingin.” Kata Donghae. Yoona mengangguk dan berbalik menuju rumahnya. Namun baru satu langkah ia berhenti.

“Yoong~? Waeyo?” tanya Donghae heran. Yoona terdiam. Ia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang.

Yoona berbalik cepat lalu mencium pipi Donghae. Ia segera merunduk setelah menyadari apa yang telah dilakukannya. Pipinya merah menahan rona bahagia.

Donghae terpaku sesaat sebelum akhirnya tersenyum manis.

“Yoong~” ia mengangkat dagu Yoona sehingga kini mereka saling menatap. Ah, gadis ini sungguh manis, pikir Donghae. Dengan cepat, Donghae langsung mencium lembut bibir Yoona.

Hanya ciuman sekilas, namun sangat berarti bagi dua sejoli itu. Terutama Donghae. Ini memang bukanlah yang pertama, namun rasanya tetap sama. Debaran yang dirasakannya, wajah merah Yoona, sentuhan bibir gadis itu…Donghae akan sangat merindukannya.

“Masuklah.” Kata Donghae pelan. Yoona tersadar dan segera berlari kecil menuju rumahnya. Ia berbalik dan mendapati Donghae masih berdiri menatapnya dengan senyuman.

“Saranghaeyo.” Kata Donghae tanpa suara. Yoona tersenyum.

“Nado saranghae, oppa.”

***

“Donghae? Ini benar kau?”

Donghae tersenyum hangat, “Ne, hyung. Ini aku, Lee Donghae.” Katanya lalu masuk ke Handel and Gratel.

“Donghae, kenapa kau datang semalam ini?” tanya Jongwoon heran karena Donghae tiba-tiba mengunjungi coffeshop-nya pukul sepuluh malam.

“Bukannya kau yang menyuruhku untuk mengunjungi Handel and Gratel, hyung?” jawab Donghae lalu duduk di salah satu meja kosong, “disini sepi sekali, hyung.”

Jongwoon terkekeh, “Ini sudah malam, Donghae, dan aku juga akan tutup. Kau bisa mengunjungiku kapan saja, tidak usah sekarang.”

Donghae menggeleng, “Aniyo, hyung. Hanya sekarang aku bisa datang kesini.”

Jongwoon mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Aniyo. Apa ini? Boleh kuminta, hyung?” tanya Donghae sambil menunjuk buku kecil yang dibawa Jongwoon.

Jongwoon mengangguk. “Tentu saja, itu catatan pesanan. Kau tunggulah dulu, aku akan membuatkan kopi spesial untukmu. Haahh…sayang sekali alat-alatnya sudah kubereskan. Tapi tidak apa-apa, kau tunggulah dulu.” Kata Jongwoon lalu ia pun berlalu menuju dapur meninggalkan Donghae sendirian.

Firasat Jongwoon sangat buruk. Ia merasa akan kehilangan seorang Lee Donghae. Ah, apa yang sedang dipikirkannya? Dan lagi, kenapa perkataan Donghae sangat aneh? Kenapa dia merasa…Donghae akan…mati?

Berkali-kali ia berusaha menepis perasaannya namun ia tidak bisa. Lima tahun mengenal Donghae membuatnya merasakan ikatan batin yang kuat dengan Donghae. Tidak, tidak. Perasaan apa ini?

Kenapa…sakit sekali?

***

Yoona terus menatap ponselnya, menunggu pesan dari Donghae. Meskipun mustahil, karena ia pikir Donghae akan langsung tidur saking lelahnya, Yoona tetap setia menunggu.

Ia teringat kejadian tadi, saat Donghae mimisan. Tiba-tiba ia merasa sesak. Ia merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Yoona mulai khawatir. Donghae, apakah dia sudah sampai di rumah? Apa dia baik-baik saja? Dimana dia sekarang?

Yoona terus merasa gelisah sehingga tidak bisa tidur. Batinnya mengatakan telah terjadi sesuatu namun ia tidak tahu apa itu.

“Hae oppa…jebal, jangan tinggalkan aku…”

***

“Uhuk,” Donghae menutup mulutnya yang telah banyak mengeluarkan darah. Tangan kanannya terus menulis pada note yang diberikan Jongwoon padanya. Ia tidak ingin catatan itu menjadi kotor karena darahnya.

Ia tahu ini akan terjadi. Ia merasakannya, ia merasa kematiannya sudah dekat.

“Uhuk, uhuk.” Donghae kembali memuntahkan darah. Tangannya bergetar dan membuat tulisannya berantakan.

Bolpoin yang dipegangnya jatuh seketika bersama dengan kepalanya yang terkulai lemah di atas meja. Dadanya terasa sesak. Pandangannya mulai buram.

Tiba-tiba Donghae ingat kenangan indah itu. Di awal musim semi, ketika udara hangat masih bersatu dengan dinginnya musim dingin.

Saat itu Donghae dan Yoona bertemu di sungai Han. Donghae ingin menyatakan cintanya namun ia tidak punya apa-apa.

Kecuali bunga matahari yang—entah kenapa—hari itu Donghae beli di toko bunga langganannya. Entah kenapa, ia membeli bunga itu.

Awalnya ia takut Yoona akan menolaknya. Tapi egonya untuk memiliki gadis itu lebih besar dari siapapun sehingga ia nekat menyatakan perasaannya dengan memberi Yoona setangkai bunga matahari.

Dan tanpa Donghae duga, Yoona menerimanya. Ia tersenyum hangat lalu memeluk Donghae. Berkata bahwa inilah yang selama ini ia nanti, bahwa ia juga mencintai Donghae.

Donghae tersenyum mengingat kejadian indah itu. Dimana saat itu perasaannya seperti ingin meledak, meluapkan segala kebahagiannya dengan Yoona.

“Uhuk, uhuk.” Donghae kembali batuk dan memuntahkan darah. Dadanya sungguh sesak sehingga ia tak bisa bernapas lagi. Ia kembali ke masa itu, dua tahun lalu di awal musim semi bersama Yoona di sungai Han.

“Oppa, kenapa oppa membeli bunga matahari? Kenapa bukan mawar?”

Saat itu Donghae juga tidak tahu kenapa ia membeli bunga matahari dan bukannya bunga mawar yang melambangkan cinta. Namun ketika ia menatap mata indah Yoona, ia tahu jawabannya.

“Karena aku matahari dan kau adalah bunga matahariku. Bunga matahari akan selalu mengikuti matahari dan tidak akan pernah meninggalkannya.”

 

Kini Donghae ingin mentertawakan dirinya sendiri. Tidak akan meninggalkan matahari? Bunga matahari tidak akan meninggalkan matahari, namun mataharilah yang akan meninggalkannya saat senja datang.

Donghae tidak bisa mengingat apa-apa lagi selain Yoona. Ia memohon pada Tuhan agar memberi kebahagiaan pada gadis itu, bagaimanapun caranya.

“Yoong~ saranghae…yongwonhi.”

Lalu semuanya gelap di mata seorang Lee Donghae.

“Donghae, cobalah kopi buatan—“

PRANG!

Kopi yang dipegang Jongwoon jatuh. Tangan Jongwoon bergetar menatap orang yang disayanginya terkulai lemas dengan darah disekelilingnya.

“Donghae!” ia berlari menghampiri Donghae. Jongwoon sungguh kalut, ia tidak tahu apa yang telah terjadi.

“Donghae! Apa yang terjadi?! Kenapa bisa seperti ini?!” Jongwoon membawa Donghae ke pelukannya. Firasatnya terbukti.

“Donghae…ireona…” Jongwoon menangis. Hatinya sesak mendapati Donghae tidak juga membuka matanya padahal Jongwoon sudah mengguncang tubuhnya dengan keras.

“Donghae…jebal…ireona…jangan pergi…” Jongwoon memeluk Donghae erat. Tidak! Ini tidak mungkin! Baru tiga jam lalu ia melihat tawa Donghae, melihatnya tersenyum, melihatnya baik-baik saja, lalu kenapa bisa seperti ini?

“Donghae! Bangulah! Kau tidak boleh mati! Kau harus merasakan nikmatnya kopiku terlebih dahulu!” kata Jongwoon frustasi, “Donghae! Lee Donghae bangunlah! DONGHAE!”

***

Ponsel Yoona berdering dan Yoona mengangkatnya dengan cepat.

“Yoboseyo?”

((“Yoboseyo, Yoona, ini aku…Jongwoon…”))

“Jongwoon oppa?”

((“N-de…i-ni aku…”))

“Waeyo?”

((“Donghae…uri Donghae…”))

“Hae oppa kenapa?” dada Yoona mulai terasa sesak. Mendengar suara Jongwoon yang tersendat-sendat, Yoona makin khawatir.

((“Uri Donghae…di-dia…di..a…”))

“JONGWOON OPPA! KATAKAN PADAKU HAE OPPA KENAPA?!” teriak Yoona histeris sambil menangis. Donghae tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Berkali-kali Yoona mengatakan itu pada dirinya sendiri.

((“Mianhae…maafkan aku, Yoona…”))

“Kenapa?! Apa yang terjadi?!”

((“Donghae…dia…kanker-darah…”))

Yoona seakan lupa bagaimana caranya bernapas.

***

(Recomented Song : SNSD – Time Machine)

Yoona berlari kencang menuju ruangan tempat Donghae berada. Ia tidak peduli meski saat ini ia hanya mengenakan piyama. Ia tidak peduli meski angin dingin menerpanya dan memaksanya untuk bergelung dalam selimut. Yang ada dipirannya hanya Donghae, Donghae, dan Donghae.

“Oppa…jangan tinggalkan aku…kau harus bertahan…” batin Yoona.

Ia berbalik di sebuah koridor dan mendapati Jongwoon berdiri mematung. “Oppa!” Jongwoon terkejut dan mendapati Yoona berlari ke arahnya. Hatinya serasa sakit.

“Dimana? Dimana Hae oppa?! Dimana dia?!” tanya Yoona. Jongwoon merunduk, lalu menunjuk sebuah pintu di depannya.

“Mian…Mianhae, Yoona…dia datang ke Handel and Gratel…tidak seharusnya aku meninggalkannya…”

Yoona tidak mengerti apa yang terjadi. Ia baru akan membuka pintu yang ditunjukkan Jongwoon namun pintu itu terbuka dan seorang dokter muncul dari balik pintu.

“Dokter, bagaimana keadaannya? Bagaimana keadaan Donghae oppa-ku?!” tanya Yoona bertubi-tubi. Sang Dokter menghela napas pasrah.

“Jongsohamnida, kami sudah berusaha…” perkataan itu membuatnya seperti disambar petir. Ia sering mendengar kata itu di drama yang sering ditontonnya dan biasanya ia sudah tahu apa yang menimpa si pasien. Namun kali ini Yoona mendengarnya sendiri. Ia tak pernah menyangka rasanya akan sesakit ini.

“Tidak…” Yoona menggeleng. “Tidak! Tidak! Ini tidak benar! Hae oppa pasti selamat! Hae oppa pasti bisa bertahan!” Yoona menerobos masuk dan mendapati Donghae yang terbaring lemah di ranjangnya. Seorang suster tengah mencabut semua alat yang menempel di tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan?!” suster itu menoleh dan terkejut mendapati seorang gadis tengan memakinya dengan air mata. Suster itu mengerti, “Jeongsohamnida, kami sudah berusaha…” sang suster membungkuk lalu membiarkan Yoona melihat Donghae untuk terakhir kalinya.

“Oppa…” Yoona mendekat lalu menggenggam tangan Donghae. “oppa, ireona…jebal ireona…” kata Yoona lirih. Tidak, ini pasti hanya mimpi. Baru saja ia melihat Donghae baik-baik saja.

“Oppa…” Yoona menggigit bibirnya berusaha meredam sakit yang menghantam hatinya. Ia menggenggam tangan Donghae. Dingin.

“Oppa…ireona…kau bukan kembang api, oppa…kau matahari…” ucap Yoona berharap mendapat senyuman hangat dari Donghae. Namun bibir itu terkatup rapat seolah takkan terbuka lagi, takkan tersenyum lagi.

Yoona tidak bisa menahannya lagi. Ia merasa Donghae menghianatinya, Donghae begitu jahat padanya.

“Oppa! Cepat bangun! Kenapa kau lakukan ini padaku?! Kau harus dihukum! Cepat bangun oppa…” Yoona jatuh terduduk sambil menangis. Walaupun berkali-kali ia membangunkan Donghae, Donghae tetap tidak akan bangun.

Yoona merasa sesak. Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?

Donghae, orang yang selalu melindunginya, memberinya cinta yang tidak ia dapatkan dari orangtuanya yang bercerai. Donghae, orang yang selalu memeluknya disaat ia menangis. Orang yang rela menembus badai salju demi mengucapkan “Saengil Chukkhae Hamnida” padanya. Donghae, orang yang selalu memaafkan kesalahannya, yang selalu berkata baik-baik saja…

Kenapa bisa seperti ini?

“OPPA! BANGUN OPPA! KAU TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU!” tangis Yoona makin menjadi. Ia terus memanggil-manggil nama Donghae tanpa lelah. Seakan tubuh itu hanya tidur, seakan tubuh itu akan bangun, memeluknya dan berkata “Surprise!”

“Kau sudah berjanji, oppa…”

Namun itu tidak terjadi. Lee Donghae sudah tidur. Tidur untuk selamanya.

I’m going to embark on a time machine

If i would be able to go meet you again

I wouldn’t ask for more

Before it becomes a distant fleeting memory

I need a time machine

***

Han river, 1 Maret 2008.

06.00 KST

 

Yoong~

Yoona, saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tiada. Maafkan aku, Yoong~ aku terlalu takut membuatmu bersedih jika kau mengetahui keadaanku yang sebenarnya.

Yoong~, penyakitku sudah sangat parah. Aku bahkan baru mengetahuinya seminggu lalu. Hahaha…aku bodoh, bukan? Jadi jika nanti aku pergi, kumohon jangan salahkan siapa pun, karena memang tidak ada yang salah.

Yoong~ aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Kau bilang aku adalah matahari, namun aku tidak bisa menjadi matahari. Aku adalah kembang api, yang akan hilang setelah menunjukkan keindahannya.

Yoong~maafkan aku…maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku bersamamu, maaf karena aku meninggalkanmu…

Berjanjilah untuk selalu menjadi bunga matahari, karena walaupun aku tidak bisa menjadi matahari yang sesungguhnya, aku akan selalu menjadi mataharimu.

Jebal, kau harus bahagia.

Saranghae, nae HAEbaragi…

Yoona menatap surat yang berlumuran darah kering bercampur air matanya tanpa henti. Kenapa? Kenapa seperti ini? Kenapa?

Yoona sungguh tidak mengerti kenapa dunia sangat tidak adil padanya. Apakah cinta yang dimilikinya bersama Donghae adalah sebuah kesalahan?

Yoona melipat surat itu. Jongwoon yang memberinya sejam lalu pagi-pagi sekali. Jongwoon bilang ia akan meyerahkan surat itu saat Yoona sudah mulai bisa menerima kematian Donghae.

Yoona memang terlihat sudah menerimanya tapi…tidak. Yoona tidak akan bisa melupakan Donghae. Tidak akan pernah.

Yoona menatap lurus ke sungai Han. Disinilah, tepat di tanggal ini, di awal musim semi, Donghae menyatakan cintanya. Disinilah Donghae mengajaknya kencan terakhir kali, dan disini pula tempat dimana abunya disatukan dengan angin.

Yoona mengingat jelas saat-saat kebersamaannya dengan Donghae. Hal-hal yang mereka lewati berama, itu terlalu indah. Bagaimana mungkin Yoona melupakannya?

Donghae menyuruhnya untuk bahagia. Bahagia? Bagaimana mungkin ia bisa bahagia jika kebahagiannya sudah mati? Bahkan bahagia kini adalah kata asing baginya.

Yoona memejamkan matanya dan menghirup udara segar pagi itu. Yang sedang ia pikirkan saat ini adalah Donghae. Ah, tidak. Setiap hari, bahkan setiap detik yang ada dipikirannya hanyalah Lee Donghae.

Dan cara untuk bertemu dengannya.

Perlahan, Yoona melangkahkan kakinya menuju tengah sungai yang masih dingin itu. Tidak peduli dengan air sungai yang kini mulai menenggelamkannya…

“Donghae oppa, kau adalah matahari dan aku adalah bunga mataharimu. Bunga matahari akan tumbuh mengikuti matahari. Ia akan mengikuti gerak matahari sepanjang hidupnya. Ia akan bergerak dari timur ke barat lalu akan layu ketika matahari digantikan bulan.”

Yoona tersenyum senang. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Donghae. Ya, sebentar lagi…

“Oppa, tahukah kau mengapa bunga itu dinamai bunga matahari? Karena bunga matahari, takkan bisa hidup tanpa matahari.”

 

THE END.

Cek KC Boutique ;) KLIK DI SINI

About these ads

18 Tanggapan to “[FF] Haebaragi (Oneshoot) -Special from winners-”

  1. ta2angraini_elf 14 Desember 2013 at 4:54 PM #

    ini ff yang mendalam banget….ditambah recommended lagunya emang pas banget! sumpah author kereeen banget! i’ll promote thus Fan fiction:)

  2. LEE SANG HEE 16 November 2013 at 6:56 PM #

    Cinta yg mereka punya itu Tulus … to me “YoonHae is Really Real”

  3. albertadm 14 Juli 2013 at 11:59 AM #

    oh God.. aku (hampir) nangis TT. gabisa bayangin kalo kita ditinggal orang yang kita cintai TTTTTT nyesek baca ceritanya. beneran. ciyus TTTTTTTTTTT

  4. Chewnie 18 Januari 2013 at 12:34 AM #

    Hiks hiks :'( sedih bget bacanya.
    Ff nya keren abizz.
    Wlau sad ending, YoonHae tetap b’satu. I like it.

  5. ChristinSimbiak 9 Desember 2012 at 10:02 PM #

    WOAH >,<
    Keren bgt..!!
    Daebak..
    Sad ending T_T
    Tpi,ttp keren!

  6. yoongie andante 8 Oktober 2012 at 11:15 PM #

    bner2 sad ending TnT

  7. hafiffah 2 Oktober 2012 at 2:31 PM #

    , wiiih bikin nangis aja ni ff ,.
    huh keren deh pokok nya
    itu yoona nya mati yha ..
    haduuh kashian banget

  8. caca 28 September 2012 at 4:19 PM #

    bagus aku suka ffnya tapi itu semua membuat aku menangis tak menentu

  9. Deery00ng 13 September 2012 at 5:18 AM #

    NyesekKK ;-)
    keren bgt unN , ,T.T
    y0onhae daebbakKK

    unN,buat lg ff y0onhae yg lain ea unN,DTUNGGU ! :-)

  10. Yanda"yoonhae" 21 Agustus 2012 at 9:49 PM #

    Sedih bgt thor.. ceritanya
    yoongni d’tnggal ma hwaeppa, ceritanya hmpir ky lgu GG-forever”ingin sllu brsma orng yg d’cntai”
    lanjut ff’a ,pi request happy end. ya….fighting author!!!

  11. Yanda"yoonhae" 21 Agustus 2012 at 9:41 PM #

    Sedih bgt deh bacanya,,kasian yoong onni d’tinggal ma hwaeppa.
    Tpi agk bingung pas akhrnya tu yoong onni’a meninggal jga ya thor…..
    Pas kya lgu snsd-forever yg part awalnya yoong onni!
    Lanjut ya chingu FF’a pi request yang happy ending ja,jebal…..

  12. Anjvee 18 Agustus 2012 at 3:44 PM #

    Author ceritanya bikin nangis :'(
    Feelnya dapet banget :'(

  13. lavinda :D 4 Agustus 2012 at 10:53 PM #

    cerita nya bikin nanggis aja :'(

  14. Elf_Ta2angraini 1 Agustus 2012 at 12:44 PM #

    chingu π_π ceritanya sedih bgt .
    langsung ke pikir klo nanti di filmin trs yang meranin juga mereka aku pasti langsung nonton

  15. s'ELF'y 30 Juni 2012 at 9:38 PM #

    baguss banget chingu ..
    tapi kenapa donghae harus penyakitan mulu ..gwe kan gak tegaa TT_TT

  16. tika yoonhae 25 Juni 2012 at 1:10 PM #

    keren ,tapi kenapa harus sad ending huhuhu :'(

  17. stelfishy 18 Juni 2012 at 9:43 PM #

    aigoo kerenn bngtt (Y) smpe trharu nyaris nangiss :”(

  18. ijhul 17 Juni 2012 at 2:59 PM #

    Yah,,,,ko sad ending sih,,,,,
    Ceritanya sedih bangetttt,,,,,,
    Tapi baguss bangettt,,,,,
    Daebak u author,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31.032 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: