[FF] 12 to 13 (Part 3)

4 Jul

Part 1 | Part 2

Note from Nera: Readers, maaf sekali karena aku terlalu lama mengirim FF ini lagi, soalnya ada beberapa kendala seperti modem yang hilang beberapa minggu lalu sehingga aku harus tunggu sampai dapat lagi. Belum lagi aku masih harus daftar SMA dan banyak kegiatan di sekolah sebelum perpisahan. Mohon maklum, ya… Sekali lagi maaf dan enjoy… ^^

(Oiya… Don’t forget to add my FB in: Nera-Bluebell Haruchan)

12 to 13 part 3 (Father’s True Love)

Esok paginya, Ueno meneleponku. Aku sendiri tidak memberitahunya tentang hal-hal tentang debutku, tentang aku di dorm, atau apa pun yang dia minta ‘pertanggung jawabkan,’ tapi dia sangat antusias waktu aku bilang akan latihan bareng Super Junior 05 hari itu juga.

“Wow, jangan-jangan mereka akan merekrutmu sebagai member ke-13!” gurau Ueno.

“Ah, mana mungkin, 12 member saja sudah kerepotan begitu,” kataku, masih pura-pura gengsi.

“Eh, omong-omong adik sepupuku kemarin main ke rumah, terus dia putar lagu ‘Miracle’ keras-keras. Lagunya lumayan, cuma aku kurang menikmatinya karena sedang mandi,” kata Ueno.

“Aku sudah pernah dengar berkali-kali dan menurutku lagu itu payah,” kataku sembari menguap.

“Tapi, kata-katanya bagus, lho!” potong Ueno. Dia menyanyikan sepenggal lagu itu. Aku hanya menatap ke langit-langit sambil gigit kuku.

By the way, sukses ya buat latihannya nanti. Aku sudah kabarkan kepada ibumu kalau kamu pasti baik-baik saja. Oh, ya, ada kiriman untukmu. Nanti di SM diambil, ya.”

“Kiriman? Dari siapa?”

“Sudah, ambil saja nanti, ya? FIGHTING!”

Baru saja aku menutup telepon, suara keras Eeteuk sudah membuatku nyaris loncat dari tempat tidur.

Maknae, ayo kita berangkat! Kok lama banget di dalam kamar?”

“Aku segera ke sana,” sahutku malas. Moga-moga saja Eeteuk tidak mendengar percakapanku dengan Ueno tadi, jadi dia nggak perlu senewen tentang komentarku soal lagu ‘Miracle.’

Kami berlima—aku, Eeteuk, Kibum, Shindong, dan Ryeowook—akhirnya menuju mobil. Aku bertanya-tanya dalam hati apa jadwal selain latihan pagi ini. Atau mungkin kita akan ke kedai terdekat? Minum sake sepuasnya? Atau mungkin ke tempat fitness  bicara soal pembentukan badan? Hm, kalau aku pikir-pikir, Rain adalah salah satu artis yang pasti sering fitness karena bentuk badannya seperti dipahat. Kali ini kami pasti akan dikawal banyak staff atau kameramen, namun saat mencapai mobil, aku hanya melihat dua orang namja—yang satunya pasti supir—yang menunggu kami.

“Kalian tidak terlalu terlambat,” kata si supir. “Yang lain sudah berangkat lebih pagi. Mereka pasti menanyakan kalian.”

“Memang seharusnya kan begitu. Kita kan datang membawa kejutan! Mereka kan belum melihat wajah si maknae ini!” sahut Eeteuk, nyengir. “Tapi maaf, ya, si maknae ini lho bangunnya kesiangan.”

Aku kesiangan? Mereka saja ke toilet jauh lebih lama dariku!

“Tidak masalah,” kata namja yang lain. “Ayo, kalian tidak punya jadwal kosong selama penggarapan single comeback kalian. Kami sudah menyiapkan sesuatu di studio.”

“Apakah sushi? Tunggu sampai Hyukjae melihatnya,” gurau Shindong diikuti kikik Ryeowook dan Kibum di belakangnya.

“Ya ampun, bisa-bisanya mikirin sushi di saat seperti ini!” kata Eeteuk. “Ayo masuk! Kita bisa telat, matahari sudah terbit terlalu tinggi!”

Mobil menderu dengan santai namun cekatan. Aku lebih suka diam di perjalanan itu. Selain jaga image  alias jaim, aku harus tetap waspada, siapa tahu ini ‘penipuan’ atau apa, melihat dari segi kedewasaanku untuk debut. Dan omong-omong gara-gara debut ini, aku jadi teringat peristiwa dua hari yang lalu.

Saat itu aku tengah berdiri di halte dalam perjalanan ke SM. Tiba-tiba, seorang cewek menghampiriku. Hm, aku tak bisa sebutkan namanya, tapi jelas sekali bahwa dia crush-ku, perfect date-ku, Noona-ku, kakak kelasku waktu SMA.

“Hey, annyeong, kamu sedang menuju ke suatu tempat?” tanyanya, berusaha ramah.

“Ya,” jawabku singkat. Aku selalu gugup saat melihatnya, apalagi saat kami berdua sama-sama lulus.

“Kau kuliah di mana sekarang?” tanya cewek itu lagi.

“Kyunghee,” ujarku. “Jurusan musik.”

“Wow, aku dengar orangtuamu mau kau mengambil fakultas hukum?”

“Ya, tapi aku menolaknya.”

Hening sejenak. Lama-lama, aku merasa ada yang salah pada cewek itu.

“Omong-omong, kenapa wajahmu sayu begitu? Ada masalah?” tanya cewek itu.

“Yah, bukan masalah besar,” kataku, mencoba tersenyum. “Aku hanya sedikit grogi karena lama tidak bertemu denganmu. Hm, kamu belum bisa melepaskan pacarmu, kan?”

“Pacarku?” si cewek tergelak. “Tentu saja sudah bisa, kecuali aku lebih memilih tampang daripada pribadi.”

Kami tertawa bersama. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku. Perih sekali, hingga perasaan itu sulit kuucapkan. Ini sesuatu yang harus kukatakan, tapi semenjak aku menjadi trainee, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Aku malah baru merasa hancur setelah aku bertemu si Noona.

Guntur bergemuruh dan hujan mulai turun. Kami duduk di bangku halte untuk berteduh. Sesekali bicara, tapi lebih banyak diam.

“Jadi, mau bicara apa?” tanya si Noona. “Kau sudah lama tidak membalas e-mail dariku. Ada apa sebenarnya? Kenapa kau malah menghapus akunmu dan sekarang…”

“Noona, kurasa kita nggak bisa meneruskan hal ini,” kataku setelah bersusah payah bicara.

Cewek itu terpaku di tempat. “Apa maksudmu? Aku nggak mengerti…”

“Ya, kau mengerti,” ucapku tercekat. “Ini kesalahanku dan aku rasa kau pun juga bersalah membiarkanku menghapus akunku untuk menghilangkan identitasku. Aku yakin kau ingin tahu ini semua demi kita berdua, tapi kau juga harus tahu bahwa hal ini sangat sulit.”

“Aku—mungkin—mungkin aku bisa membantu…”

“TIDAK! Justru kau tidak bisa!” teriakku, suaraku tak dapat kukontrol. Gemuruh petir mewarnai kemarahanku. “Ini sungguh-sungguh buruk keadaannya dan tak ada gunanya kau bersimpati! Kaupikir apa alasanku menghapus akun? Apa aku melupakanmu secara cuma-cuma, Noona? Aku tidak akan melakukan jika tidak ada yang memaksaku…”

“A-aku tidak mengerti,” isak cewek itu. “Sangat tidak mengerti!”

Tanganku kugenggam erat saat aku berkata lagi. “Ini salahku, tapi mau apa lagi? Jadi sekarang, kau simpan saja aku dan berpikirlah seolah aku baik-baik saja. Kau salah kalau merasa aku tidak apa-apa. Tapi, Noona, aku sekarang sudah cukup dewasa untuk mengatakan hal yang sejujurnya…”

“Kalau begitu katakan,” desak si Noona, airmatanya melunturkan eyeliner hitam yang melingkari matanya. Aku menguatkan hati dan mengucapkan kalimat terpahit yang pernah kuluncurkan dari lidahku yang kelu.

“Noona, aku ingin kita jangan bertemu lagi…”

“HOI!”

Aku terkesiap. Ternyata Shindong, dia membuyarkan lamunanku tepat saat mobil berhenti.

“Kita sampai,” supir mengumumkan. “Aku rasa kami harus mengurusmu dahulu. Dan jangan ngantuk. Ini sudah hampir jam 9 pagi.” Ia berpaling ke arahku, yang masih terjebak antara bangun dan sadar. Kami pun turun dari mobil dan berpisah di persimpangan pintu masuk. Di sana juga sudah menunggu sekelompok orang, kurang-lebih delapan jiwa, sedang duduk-duduk di lobby.

“Hyung, akhirnya!” sapa seorang dari mereka. Rambutnya juga pirang, tapi tidak sepirang Eeteuk. Wajahnya bijak dan sangat dewasa. Ia terperangah saat menyambutku.

“Wah, kamu pasti trainee yang baru debut itu, kan? Salam kenal, aku Donghae,” katanya riang.

“Aku Sungmin,” kata yang lain. Rambutnya hitam dan dipotong model shaggy dengan poni yang diberi gel supaya kaku. Senyumannya juga terkembang.

Begitulah acara kenalan kami. Aku bisa mengingat baik bahwa diantara mereka berdelapan yang bertubuh paling besar adalah Kangin, yang lainnya bernama Heechul, yang wajahnya paling terlihat innocent bernama Yesung, ada juga Hankyung—pindahan China yang tampan, lalu yang tubuhnya lebih kecil tetapi lumayan manis panggilannya Eunhyuk, dan yang terakhir adalah The Prince Charming—namanya Siwon.

Kami pun bebarengan mendaki tangga SM menuju ke studio yang dimaksud. Di sana ada beberapa orang. Aku tak bisa mengingat satu pun nama mereka karena menurutku hal itu tidak penting, tapi aku ingat betul kalau salah satunya pelatih koreografi kami.

“Wah, kalian benar-benar oke hari ini,” kata pelatih itu, namanya Chang Ri, kalau bisa kuingat. “Sepertinya aku harus bilang bahwa aku hanya melatih koreo di sini, jadi bukan aku yang bikin konsepnya. Jadi, kali ini bagaimana kalau aku mengenal nama kalian dahulu?”

Kami pun menyebutkan nama masing-masing. Chang Ri tertawa.

“Wow, kalian lebih banyak dari yang kukira. Dua belas, kalau aku tak salah hitung?”

Apa? Dia lupa menghitungku?

“Permisi,” kata Donghae tiba-tiba. “Ada satu tambahan anggota dari kami, yang itu, paling ujung. Jadi kami ada 13 sekarang.”

“Oh, di daftar kalian begitu. Koreografi ini sudah kurancang untuk 12 orang.”

“Tapi, ada satu lagi yang kurang! Terus dia mau apa?” protes Donghae.

“Tidak  masalah,” kataku menengahi. “Aku bisa tidak ikut dulu selama sehari.”

“Wah, tidak bisa begitu, penggarapan single kita ini sudah diatur manajemen,” tegas Eeteuk. “Koreo untukmu kan bisa menyesuaikan.”

“Ada benarnya juga,” kata Chang Ri padaku. “Nah, sekarang aku harap kalian semua pemanasan sebisa mungkin, lalu kita mulai latihan koreo.”

Ternyata, hasil dari pemanasan tidak membuatku lebih baik. Aku nyaris encok gara-gara melakukan gerakan yang salah. Terlebih aku tidak terlalu hafal gerakannya. Untunglah aku berada di belakang formasi, tepat di belakang Sungmin. Dia benar-benar baik karena mau mengajariku cara mencapai gerakan yang sulit. Akhirnya, latihan selama setengah jam yang akan dijadwalkan tiap hari tiap minggu ini berhasil kami isi. Pada akhirnya salah satu yang unik dari gerakan itu adalah pelvic thrust. Menurutku gerakan itu lucu. Kami diminta menggerakkan pinggang kami dari atas ke bawah, dan aku yakin gerakan itu akan menjadi yang menonjol diantara yang lain.

“Aku masih belum mengerti kenapa kita latihan koreo dulu baru rekaman,” kataku pada Ryeowook seusai pelajaran itu. Kami berdua sedang duduk selonjor di ruang latihan.

“Entahlah, mungkin karena memang begitu sistemnya, omong-omong kamu hanya akan mengisi vokal pada satu bait,” jelasnya. “Setelah itu kamu dan aku akan menjadi background, tapi kita juga akan mengisi lead-vocal. Aku dengar suaramu rendahmu sangat bagus dan nada tingginya juga dapet. Ya, nggak?”

“Ya, katanya, sih,” sahutku merendah. Mendadak aku teringat kiriman yang dimaksudkan Ueno. “Wah, aku harus ke resepsionis dulu, ada yang harus kuambil!” kataku, lalu bergegas meninggalkan studio.

Aku menanyai si resepsionis wanita dan akhirnya mendapatkan paket itu. Jantungku seperti mau meloncat dari rongganya saat mengetahui isinya.

Sepasang sneakers Piero biru langit yang sudah lama kukagumi. Ayahku yang mengirimkannya. Sulit kupercaya bahwa ayahku yang selalu menganggap diriku egois karena mementingkan musik daripada pekerjaan tetap bisa membuang duit untuk sneakers yang mungkin konyol di matanya. Butiran air mata tak terasa mengalir di pipiku. Sampai kapanpun aku takkan pernah berhenti mengenakan sneakers itu! Takkan pernah…

TO BE CONTINUED

Tentang iklan-iklan ini

2 Tanggapan to “[FF] 12 to 13 (Part 3)”

Trackbacks/Pingbacks

  1. [FF] 12 to 13 (Part 5) « Korean Chingu - 15 Juli 2012

    [...] 12 to 13 (Part 5) Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part [...]

  2. [FF] 12 to 13 – Shouts and Showcase (part 4) « Korean Chingu - 7 Juli 2012

    [...] [FF] 12 to 13 – Shouts and Showcase (part 4) Part 1 | Part 2 | Part 3 [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31.070 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: