[FF] 12 to 13 (Part 5)

15 Jul

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

12 to 13 part 5 (A Horrible Mistake)

Seorang pria nyaris menabrakku saat kami sedang asyik bicara di belakang panggung. Malam itu kami berada di acara musik kami sendiri, yang aku nggak ingat apa namanya, karena aku sudah terlalu capek sampai mataku turun. Sebentar, namanya… Ah, aku sudah lupa sekali! Yang jelas kami akan beraksi di salah satu hotel di Seoul. Suara pria itu tersendat-sendat napasnya yang memburu.

“Gawat!” katanya. “Peralatan utamanya rusak. Kita terpaksa menggunakan peralatan pengganti! Tapi sayangnya, mereka tak bisa kita hubungi jam-jam segini.”

“Ah, kau jangan bergurau, Yoon Man,” kata Sun Ah, asisten showroom manager kami, yang selalu ikut ke manapun kami pergi.

“Mana mungkin aku bergurau,” kata Yoon Man. “Kepala bagian special effect memberitahuku barusan. Ada kesalahan di bagian perangkatnya sehingga kita harus memperbaiki, tapi itu akan memakan waktu sekitar tiga jam, jadi kutelepon staff khusus di EO, hanya saja mereka tidak menanggapi. Gimana? Acara tak bisa dibatalkan.”

“Eh, maksudmu kali ini kami tak bisa tampil?” tanya Eeteuk, melongo kaget.

“Yah, harus kukatakan ya malam ini,” jawab Yoon Man.

“Kita harus bagaimana sekarang? Show-nya bentar lagi, nih,” Sun Ah menepuk dahi.

“Jangan khawatir, kurasa kita bisa melakukan sesuatu,” manajer personal kami, Kim Jung Hoon, tiba-tiba menampakkan wajahnya. “Kita kan bisa show di luar ruangan.”

Sun Ah menatapnya dengan ragu. “Wah, kita harus pikir dua kali, dong!”

“Mau tak mau, aku setuju sama Jung Hoon!” seru Kangin dari belakang loker. “Dengan begitu kan kita bisa lebih dekat dengan fans di luar sana.”

“Kalau begitu harus ada perubahan tata letak kamera dan lain sebagainya,” protes Sun Ah.

“Hal ini cukup berat, memang,” aku Yoon Man. “Tapi, bagaimana kalau kita buat sedikit kesan surprise? Bukankah waktunya mendadak begini?”

“Ya, aku setuju juga,” kata Eeteuk setelah sesaat berpikir, mendengar panggilan fans yang bergemuruh di seantero podium.

“Aku juga,” kata Donghae. Yang lain berpikiran sama, kecuali aku, yang tetap diam seribu bahasa. Kalau kata orang tua bilang: manut ayo jalan, nggak ya bubar.” Buktiin dong kalau kalian EO profesional!!!

Akhirnya, Sun Ah menyerahkan semua pada kami, lalu berkumpul bersama orang-orang EO untuk berembuk. Jung Hoon juga mengumpulkan kami bertigabelas lalu membisikkan

cara-cara gilanya. Manajer baru kami ini memang tak hanya cute, tapi juga berotak encer. Lalu, kami menerobos lewat tepi panggung dan…

“Semalam show-nya keren!” kata salah seorang fans cewek di sebelahku.

“Benar!” kata temannya. “Si maknae itu juga keren!”

“Ah, baru dia masuk sudah jadi begini, itu luar biasa.”

“ Suaranya memukau!”

Hari itu aku sedang menunggu bus di halte, bersama dua orang fans cewek yang baru kubilang tadi. Aku mendiamkan saja mereka yang sedari tadi mengobrol. Taruhan, pasti mereka merelakan waktu belajar buat ujian malam kemarin, karena aku tahu betul jadwal ujian tengah semester. Dulu aku juga pernah mengalaminya, tapi aku lebih gila dari mereka. Aku sempat kena semprot Umma dan Appa gara-gara bukannya belajar malah ke game center. Aku kan ingin mengistirahatkan otakku! Memangnya nggak boleh?

Bus pun tiba juga. Anak-anak cewek itu rupanya nggak naik juga. Aku curiga, apa jangan-jangan mereka tahu aku di situ, di samping mereka, walau sudah pakai mantel salju dan kacamata hitam? Gawat dong kalau mereka sampai tahu! Kutarik lagi mantelku sampai menutupi nyaris setengah wajahku, lalu kulihat bus yang kutunggu datang. Namun, baru saja aku mau naik, kedua cewek tadi berteriak:

“Lihat! Itu kan dia, si maknae semalam!”

“Kyaaaa, jangan pergi!”

Aku kelabakan, nggak tahu harus berbuat apa. Tak beberapa lama, aku sudah ngacir dengan dikejar dua cewek tadi. Aku melupakan niatku naik busway, karena keinginan menyelamatkan diri bak maling dikejar polisi. Kulihat gang di depanku, lalu aku masuk. Kedua cewek tadi sudah pergi waktu aku nongol dari gang, tapi masalah lain sudah menungguku.

Seekor bulldog dengan gigi-gigi kuning menggeram-geram padaku dari balik tong sampah. Jantungku nyaris copot waktu si bulldog melompat dari tong sampah dan menerjangku. Tanpa basa-basi lagi, aku pun lari terbirit-birit. Ampun, ini rupanya personal taste-nya seorang selebriti! Nggak anjing, nggak manusia, semuanya ngefans!

Waktu aku tiba di tempat fitness di daerah Apgujeong (tempat favorit di Gangnam, lho!) bauku sudah tak beraturan lagi. Kubandingkan bauku dengan bau atlet yang sering ke fitness. Wow, nggak jauh beda! Yaiyalah, soalnya aku kan habis jogging bareng bulldog! Di tempat itu, aku bertemu dengan Jung Hoon, Kibum, dan Siwon. Mereka baru saja selesai latihan angkat barbel.

“Aduh, kamu kok telat sih datangnya? Kami sudah menunggumu hampir satu jam,” keluh Siwon.

Mianhaeyo, aku tadi ketinggalan bus,” jawabku separo-benar.

“Yah, nggak masalah. Semua bus ada yang jalannya lambat,” kata Jung Hoon. “Lho, sepatumu kok hilang satu? Ke mana?”

Kibum yang baru menenggak isotonik nyaris menyemburkannya sewaktu menatap kedua kakiku. Olala, benar sekali, salah satu kakiku hanya berbalut kaos kaki nan pengap. Aku sendiri nggak ingat persis bagaimana bisa sepatuku hilang. Yang jelas, sewaktu aku lari dikejar bulldog tadi.

“Ya ampun, beneran?!” seru Siwon, matanya hampir keluar rongganya saat kuceritakan padanya kejadian ‘tragis’ itu.

“Lalu, apa yang kamu lakukan? Kamu berhasil lolos?” tanya Jung Hoon antusias.

Kibum geleng-geleng kepala. Anak ini memang tak jauh beda dari Hankyung, sama-sama pendiam tapi terkadang bikin ngakak satu apartemen.

“Ya, aku pergi ke sebuah gang dan entah kenapa seekor anjing menerjangku dari balik bak sampah,” lanjutku.

“Dan kamu berhasil lolos juga dari dia?” tanya Siwon.

“Entahlah, mungkin aku amnesia,” jawabku, geli pada ucapanku sendiri.

“Anjing apa yang mengejarmu?” Kibum bertanya.

“Yah, kurasa jenis anjing yang seperti Kangin, ganas dan—anehnya—tangguh,” aku menjawab.

Siwon terkekeh. “Kamu jangan berprasangka begitu pada Kangin. Walaupun dia agak agresif, tapi hatinya selemput kapas. Waktu pertama debut, aku tahu betul dia itu kayak gimana. Dia sangat baik pada trainee di bawahnya. Dia selalu memberikan mereka minuman dan sake kalau mereka habis latihan.”

“Dan jangan lupakan Sonya,” bisik Kibum, tapi Siwon menukas, “Hey, jangan bicara begitu atau kau kena semprot seseorang!”

“Sonya? Siapa itu Sonya?” tanyaku penasaran.

Trainee grup A, sekarang bekerja pada Cube Entertainment,” kata Siwon.

“Kalian masih ingat insiden kecil itu, kan?” tambah Jung Hoon. Aku mengangguk-angguk, walaupun sebenarnya nggak faham sama sekali apa masalahnya.

“Aku mau keluar dulu, pagi-pagi begini enaknya cari udara segar,” kata Kibum.

“Aku juga,” kata Jung Hoon. “Ikut kalian berdua?” ia berpaling ke Siwon dan aku.

“Errr, aku harus cabut, ada janji syuting di Gangnam jam 9,” kata Siwon, cepat-cepat menyambar handuk dan pergi. Tak lupa melambai pada kami.

“Nah, kurasa kamu mau ikut,” kata Jung Hoon padaku.

“Oh, ya,” sahutku. “Aku ikut kalian.”

Kami bertiga baru men-capai lobby saat kami melihat serombongan cowok berbadan atletis melewati kami. Jung Hoon menyapa mereka.

“Hey, Shane, lama tak berjumpa, Sobat!”

Shane, cowok yang paling depan, menjabat tangan Jung Hoon sambil tertawa.

“Ah, kamu, Hoonie? Tumben fitness di sini. Mentang-mentang waktumu longgar.”

“Jangan mengejekku,” kata Jung Hoon, ikut tertawa. “Aku hanya menjalankan tugas.” Dia menambahkan seraya mengedik padaku dan Kibum. Shane dan rombongannya bergumam tak jelas, lalu ia menjabat tanganku.

“Oh, kamu pasti member baru Super Junior, kan?” sapanya. “Annyeong!”

“Lebih tepatnya maknae-nya,” kataku. “Apa kau pelanggan tempat ini?”

“Lucu sekali kau bilang begitu, Sobat,” kekeh Shane. “Kalau kau juga anggota klub fitness ini, pastinya kau tahu, kan? Jawab aku dengan jujur, apa kau habis putus dengan cewekmu?”

“Emmm, mungkin,” jawabku, sebenarnya agak kaget kenapa lelaki berdaging liat ini bertanya begitu.

“Wah, anak-anak sepertimu pasti sering mengalaminya. Faktor utamanya adalah dari gayamu. Cewek-cewek suka pada cowok yang bisa menjaga dirinya dengan baik. Kuberitahu, ya, kalau kau ingin punya banyak cewek, rajinlah latihan fisik di sini. Dijamin kamu akan digaet banyak cewek. Tidak dengan badanmu yang kerempeng itu.” Shane mengakhiri.

“Aku tak peduli soal badan,” ujarku ringan. “Semua cowok kan punya pesonanya masing-masing.”

“Lalu, menurutmu pesonamu apa?” tanya salah satu teman Shane.

“Hmmm, entahlah, mungkin dari suara,” jawabku pendek . Shane dan kawan-kawannya terkekeh. Kibum mengerutkan dahi. Jelas pikirannya sama denganku.

“Suara? Hahaha, kamu ini lucu sekali! Cewek-cewek cenderung menyukai cowok dari sisi luar mereka. Kalau mereka berkualitas, pasti mereka bakal nempel. Daya tarik suara takkan cukup jika kau tidak punya modal lain!” gelak teman Shane yang lain.

“Oh, ya? Buktinya tadi aku habis dikejar dua cewek dan satu bulldog,” ujarku cuek.

“Hah? Bulldog? Mungkin dia pikir kau tulang berjalan!” kata Shane, tertawa makin keras.

“Kau mengatakan itu hanya karena kau iri, kan? Kau tak punya suara yang bisa kaubanggakan, itu sebabnya kau hanya mengandalkan otot bodoh di tubuhmu itu,” ujarku,

lama kelamaan panas dengan celotehan Shane. Apa-apaan dia itu? Menyapa hanya untuk mengejekku dan pamer body?

Cowok besar itu langsung berhenti tertawa dan menjadi sangat serius. “Apa katamu? Otot bodoh? Heh, tahukah kau berapa lama aku membentuknya?”

“Itulah! Kurasa kau belum pernah baca buku Biologi! Otot tak bisa dibentuk, tapi hanya bisa ditonjolkan,” kataku tenang, meskipun tiap milimeter hurufnya benar-benar to the point. Dalam sedetik kemudian, ada hantaman kasar di sisi kepala yang membuatku terpelanting ke tembok. Shane sudah kehilangan kontrol. Dia sama sekali mirip bulldog yang mengejarku tadi pagi. Tanpa diduga siapapun, aku bertindak seperti cermin, melepas tinju pada Shane. Alhasil, aku kembali jatuh dengan mata kiri yang memar. Dalam kepusingan hebat, kutatap Jung Hoon dan pria-pria lain yang  tengah berusaha menenangkan amarah Shane. Kibum membantuku berdiri, lalu menggeretku keluar lobby. Kami menuju mobil.

“Ada ap—“

“Diam!” tukas Kibum. “Kau membuat kesalahan besar!”

Jung Hoon telah kembali. Ia mengambil kendali setir dan membawa kami jauh-jauh dari tempat itu.

“Oh, tidak! Apa itu?” teriak Jung Hoon tiba-tiba. Dia menunjuk kepada seorang pria yang mengganggam kamera digital. Pria itu telah memotret kejadian barusan.

“Sial, paparazzi!” Kibum mendesah. “Taruhan, deh, dia pasti bakal membuat gosip yang aneh-aneh soal tadi.”

Aku memegangi mata kiriku yang memar parah, hasil pukulan telak Shane. Secara bersamaan berharap, semoga yang dikatakan Kibum takkan pernah terjadi.

TO BE CONTINUED

About these ads

6 Tanggapan to “[FF] 12 to 13 (Part 5)”

  1. INA 12 September 2012 at 5:47 AM #

    AUTHORNYA MANA??????????????????????????

  2. gaem 12 September 2012 at 5:47 AM #

    AUTHORNYA MANA???????????????????

  3. gaem 12 September 2012 at 5:46 AM #

    AUTHORNYA MANA????????????????????????

  4. gaem 11 Agustus 2012 at 12:18 PM #

    AUTHOR~~~~~~~~~ :D
    *mangil authornya*

  5. gaem 11 Agustus 2012 at 12:16 PM #

    LANJUTANNYA MANA??????????????????????????
    AUTHOR KEMBALILAH !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    JAGAN BIKIN SAYA PENASARAN !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. gaem 2 Agustus 2012 at 6:14 AM #

    lanjutannya mana??? ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31.029 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: